Pekerja dari Rumah Diusulkan Bayar Pajak 5%

    Nia Deviyana - 15 November 2020 21:00 WIB
    Pekerja dari Rumah Diusulkan Bayar Pajak 5%
    Ilustrasi pekerja. Foto: MI/Ramdani
    Jakarta: Peneliti di Deutsche Bank mengusulkan agar orang yang mendapatkan hak istimewa bekerja dari rumah membayar pajak lima persen. Sehingga hal ini dapat menyubsidi orang-orang yang kehilangan pendapatan akibat virus covid-19.

    Ahli strategi tematik Deutsche Bank Luke Templeman mengatakan dalam laporan penelitian yang diterbitkan Selasa, bahwa pajak atas "pekerja jarak jauh" sebenarnya diperlukan dan covid-19 membuat itu menjadi jelas.

    Luke mengungkapkan bahwa bekerja dari rumah berarti banyak menghemat biaya sehari-hari seperti perjalanan, makan siang, pakaian dan kebersihan, serta kemungkinan lebih sedikit bersosialisasi.  

    "Di sisi lain, pekerja jarak jauh berkontribusi lebih sedikit pada infrastruktur ekonomi sementara masih menerima manfaatnya," ujarnya dilansir dari CNBC International, Minggu, 15 November 2020.

    Templeman mengatakan pekerja jarak jauh harus membayar retribusi usai pandemi untuk memperlancar proses transisi bagi mereka yang tiba-tiba terlantar akibat krisis covid-19.

    Pandemi telah menyebabkan 10 kali lebih banyak orang di AS bekerja dari rumah, yakni 56 persen dari angkatan kerja. Sementara di Inggris, angka ini meningkat tujuh kali lipat menjadi 47 persen.

    Sebuah survei Deutsche Bank menunjukkan bahwa lebih dari setengah pekerja internasional ingin terus bekerja dari rumah dua hingga tiga hari dalam seminggu pascapandemi.

    USD48 miliar setahun terkumpul

    Luke mengatakan pekerja jarak jauh cenderung memiliki pendapatan lebih tinggi dari rata-rata. Berdasarkan asumsi gaji rata-rata seseorang yang bekerja dari rumah, dia menghitung bahwa tarif pajak lima persen tidak akan membuat perusahaan maupun individu menjadi lebih buruk.

    Misalnya, dengan asumsi gaji rata-rata USD55 ribu untuk orang yang bekerja dari rumah di AS, pajak lima persen menghasilkan lebih dari USD10 per hari, perkiraan jumlah yang mungkin dihabiskan oleh pekerja untuk pulang pergi, makan siang, atau binatu.

    Di Inggris, jika ini diterapkan akan menghasilkan tujuh poundsterling atau USD9,21 sehari untuk pekerja dengan gaji 35 ribu poundsterling, dan lebih dari 7,50 euro atau USD8,85 sehari untuk seseorang dengan gaji 40 ribu euro di Jerman.

    Di Jerman, pajak tersebut dapat menghimpun 15,9 miliar euro, yang akan menyubsidi 12 persen orang yang memiliki pendapatan setara dengan 12.600 euro atau di bawah standar layak.

    Meski demikian, pajak yang diusulkan tidak berlaku bagi wiraswasta atau mereka yang berpenghasilan rendah.

    Luke menghitung, pasca-covid kemungkinan ada 4,6 miliar hari pekerja di AS akan dihabiskan untuk bekerja dari rumah, yang berarti tarif pajak lima persen pada gaji rata-rata akan menghasilkan USD48 miliar dalam setahun. Dengan demikian, ada subsidi sebesar USD1.500 untuk 29 juta pekerja yang tidak dapat bekerja dari rumah dan berpenghasilan di bawah USD30 ribu dalam setahun.

    Sementara di Inggris, jika ditetapkan peraturan yang sama, pajak kerja dari rumah akan menghimpun 6,9 miliar poundsterling, yang akan memberikan subsidi sebesar 2.000 poundsterling untuk 12 persen pekerja berusia di atas 25 tahun yang mendapatkan upah minimum.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id