Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi AS

    Fed: Tunjangan Pengangguran di AS Perlu Diperpanjang

    Angga Bratadharma - 05 Agustus 2020 13:22 WIB
    Fed: Tunjangan Pengangguran di AS Perlu Diperpanjang
    Foto: Johannes Eisele/AFP.
    Washington: Federal Reserve menilai perpanjangan tunjangan pengangguran diperlukan guna mendorong pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS). Hal itu dinilai penting mengingat perekonomian Paman Sam tengah terhantam cukup keras akibat covid-19.

    Tunjangan pengangguran tambahan sebesar USD600 per minggu bagi sekitar 30 juta orang AS bakal berakhir pada Jumat waktu setempat. Hal ini menyusul negosiasi antara anggota Partai Republik dan Demokrat untuk paket baru bantuan covid-19 terhenti.

    "Saya pikir masih perlu ada perpanjangan tunjangan pengangguran. Mungkin akan direstrukturisasi sampai batas tertentu. Tetapi saya pikir penting untuk kita melihat perpanjangan tunjangan pengangguran," kata Presiden Federal Reserve Bank Dallas Robert Kaplan, dikutip dari Xinhua, Rabu, 5 Agustus 2020.

    Menurut Kaplan peningkatan pendapatan dari tunjangan akan membantu meningkatkan belanja konsumen di tengah situasi sulit akibat pandemi covid-19. Ia menilai perekonomian AS justru akan kian melemah jika tunjangan pengangguran tidak didorong lebih lanjut.

    Sementara itu, Kepala Ekonom Moody's Analytics Mark Zandi mengatakan membiarkan tunjangan pengangguran berakhir atau memperbaruinya dengan jumlah yang lebih rendah, akan menjadi pukulan signifikan bagi ekonomi AS. Padahal, AS tengah berjuang agar keluar dari jurang krisis akibat covid-19.

    "Ada pembicaraan bahwa Senat Republik mendukung pemotongan tunjangan menjadi USD200 per minggu. Jika ini menjadi undang-undang, hampir satu juta pekerjaan akan hilang pada akhir tahun, dan pengangguran akan naik 0,6 persentase lebih tinggi," kata Zandi.

    Ekonomi Amerika Serikat terkontraksi cukup tajam yakni minus 32,9 persen di kuartal II-2020. Pelemahan yang sangat dalam itu menunjukkan parahnya hantaman virus korona yang memicu resesi ekonomi Paman Sam, terlebih kasus infeksinya terus meningkat hingga sekarang ini.

    "Ekonomi AS mengalami kontraksi di tingkat tahunan sebesar 32,9 persen pada kuartal kedua," ungkap Departemen Perdagangan AS.

    Kondisi itu merupakan penurunan terdalam sejak Pemerintah AS mulai membuat catatan pertumbuhan ekonomi pada 1947. Sedangkan di kuartal pertama 2020, Produk Domestik Bruto (PDB) riil mengalami kontraksi di tingkat tahunan sebesar lima persen.

    Penurunan PDB riil mencerminkan penurunan pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), ekspor, investasi inventaris swasta, investasi tetap non-perumahan, investasi tetap perumahan, dan pengeluaran pemerintah negara bagian dan lokal.

    "Yang sebagian diimbangi oleh peningkatan pengeluaran pemerintah federal," ungkap Biro Analisis Ekonomi.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id