Pemuda PWMP Kementan Tetap Jalankan Usaha di Tengah Covid-19

    Gervin Nathaniel Purba - 15 Mei 2020 20:26 WIB
    Pemuda PWMP Kementan Tetap Jalankan Usaha di Tengah Covid-19
    Chocobro, biskuit coklat dengan bahan dasar tepung talas yang dikombinasikan dengan gula palem. (Foto: Dok. Kementan)
    Jakarta: Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong generasi milenial, baik petani maupun mahasiswa untuk mencari solusi berkaitan dengan ketersediaan pangan akibat terbatasnya akses masyarakat selama masa pandemi covid-19.

    "Pencegah utama covid-19 adalah pangan. Dalam hal ketersediaan pangan ini, ada peluang bisnis yang bisa dimanfaatkan oleh petani milenial,” ujar Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi, dikutip keterangan tertulis, Jumat, 15 Mei 2020. 

    Banyak upaya yang sudah dilakukan, di antaranya mengerahkan mahasiswa untuk melakukan pendampingan kepada kelompok tani agar tetap berproduksi, mendorong para petani milenial untuk melakukan percepatan tanam, dan melakukan pemasaran produk secara daring. 

    Selain itu, melalui program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP), Kementan juga berkontribusi menciptakan lapangan pekerjaan. Para penerima PWMP sedikit banyak meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekitar, dan turut menjaga agar dapur mereka tetap ngebul. 

    Salah satunya adalah Wilaga, alumni FEM IPB tahun 2014, penerima program PWMP tahun 2016 yang berbasis di Bogor. Produk PWMP Wilaga adalah Chocobro, biskuit coklat dengan bahan dasar tepung talas yang dikombinasikan dengan gula palem. 

    Wilaga memilih tepung talas dengan alasan diversifikasi pangan, non beras, dan non terigu. Tepung talas disupply dari Kelompok Wanita Tani (KWT) rutin setiap bulannya. Usahanya diinisiasi sejak 2012, tetapi baru mulai berjalan pada 2014-2015. 

    Selama menjalankan usaha, sudah banyak tantangan yang dihadapi. Pada akhir 2019, misalnya. Usaha ini vakum hingga April untuk melakukan rebranding. 

    “Karena menjual pangan lokal sulit, pasar tidak terlalu merespon baik,” tutur Wilaga. 

    Sejak April, usahanya yang awalnya offline dengan konsinyasi ke toko oleh-oleh menjadi 100 persen daring melalui website chocobro.id. Konsumen Wilaga sudah tersebar di seluruh Indonesia, seperti Mandailing Natal, Bengkulu, Lamandau, Manado, Tangerang, Tangerang Selatan, Bogor, Jakarta, Bekasi, Purwakarta, Bandung, Pemalang, Jepara, Bangkalan, dan Nusa Tenggara Barat. 

    Selama masa covid-19, Wilaga mengaku usahanya juga ikut terdampak. Tetapi Wilaga tidak menyerah dan mencari solusi dengan membuat promo diskon dan merekrut reseller. Hingga saat ini, omzet per bulan chocobro mencapai Rp18 juta.




    (ROS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id