Perlu Aksi Nyata Berdayakan UMKM saat Pandemi Covid-19

    Angga Bratadharma - 29 Juli 2020 15:38 WIB
    Perlu Aksi Nyata Berdayakan UMKM saat Pandemi Covid-19
    Ilustrasi pelaku usaha UMKM. Foto: dok MI/Bagus Suryo.
    Jakarta: Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia dan tidak jarang menjadi andalan ketika sebuah krisis menerpa. Lantaran posisinya sangat penting maka sewajarnya UMKM diberikan perhatian khusus agar bisa terus tumbuh maksimal, terutama diberikan pendampingan dan kemudahan bantuan permodalan.

    Founder & CEO YCAB Foundation Veronica Colondam mengatakan harus ada aksi nyata dalam memberdayakan pelaku UMKM di Indonesia seperti membantu permodalan, membantu para UMKM mengembangkan usaha yang digeluti, dan mengajarkan bagaimana mengatur pembukuan keuangan. Hal itu menjadi penting agar para pelaku UMKM di Tanah Air bisa meningkatkan kapasitasnya.

    "Modal itu pentingnya minta ampun. Kemudian kita mengajarkan mereka atau membantu mereka untuk mengembangkan usahanya. Kita harus memikirkan dari hilir dan hulu. Jadi tidak hanya bicara ketahanan tapi bisa membangun ketangguhan (bagi para UMKM)," kata Veronica, dalam sebuah webinar bertajuk 'Menciptakan Ketangguhan UMKM Perempuan dan Petani', Rabu, 29 Juli 2020.

    Tidak hanya itu, lanjutnya, peranan teknologi juga sangat penting yang artinya para pelaku UMKM perlu memanfaatkannya. Para pelaku UMKM diharapkan tidak hanya menjalankan aktivitas bisnisnya secara tradiosional tapi perlu menggunakan teknologi guna meningkatkan kapasitas dan jangkauan pemasaran produknya kepada masyarakat.

    "Memberikan pemberdayaan yang ditingkatkan kemampuannya. Bisa jualan online itu kan lebih keren. Apalagi di masa covid-19 semua orang maunya berbelanja dari rumah. Tentu harus menyesuaikan. Jadi teknologi harus membawa harapan untuk membangun ketangguhan dari pelaku UMKM perempuan dan para petani," tuturnya.

    Sementara itu, Head of Corporate Sustainability HSBC Nuni Sutyoko mengatakan saat pandemi covid-19 mulai terjadi setidaknya ada beberapa hal yang terkena dampak. Pertama, kesehatan atau dunia medis. Kedua, isu sosial yakni dari segi kemiskinan lantaran banyak dari masyarakat yang terkena PHK atau usahanya gulung tikar. Ketiga, membangun ulang perekonomian akibat terhantam pandemi.

    "Walau kondisi rebuilding sekarang belum 100 persen membaik tapi memang sudah lebih terkendali mengendalikan pandemi," ucapnya.

    Pada konteks ini, Nuni memandang, perempuan memiliki peranan penting ketika pandemi covid-19 menyerang ekonomi keluarga terutama ketika suami atau kepala keluarga yang biasanya menjadi tulang punggung perekonomian keluarga mengalami PHK. Perempuan atau istri bisa mengasah kemampuan dengan menjadi pelaku UMKM.

    "Maaf kalau yang kena PHK bapak-bapak maka satu hal yang bisa ibu-ibu lakukan adalah membantu dalam hal skill-nya mereka. Apakah mereka bisa menjahit atau mereka buat masker atau mereka akhirnya jualan rendang, bikin segala macam," ujar dia.

    Sedangkan Ketua Dekranasda Jawa Barat Atalia Ridwan Kamil berpendapat ada empat hal yang sering dikeluhkan oleh para pelaku UMKM, terutama di Jawa Barat. Pertama, kualitas produk. Kedua, ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM). Ketiga, berkaitan dengan kebuthan modal. Keempat, berkaitan dengan pemasaran. Hal semacam itu perlu dicarikan jalan keluar agar UMKM bisa tumbuh lebih maksimal, terutama saat pandemi covid-19.

    "Jadi kalau mereka sudah ada produk yang bagus, kualitas SDM yang baik, dan mereka punya modal, tapi ternyata pemasarannya mereka tidak mampu. Bagaimana mereka bisa mengakses atau menjangkau pembeli yang tidak bisa datang ke daerah pertanian. Mata rantai yang terlalu panjang itu yang menyebabkan harga tomat di di Ciwidey Rp800 ternyata di pasar bisa lebih dari Rp10 ribu. Sehingga penting sekali yang namanya pemberdayaan melalui pendidikan," tegas Atalia.

    Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peranan perempuan sebagai pelaku UMKM di Indonesia dan peranannya dalam membantu perekonomian keluarga. Menurutnya perempuan sudah seharusnya tidak lagi diposisikan hanya mengurusi dapur, sumur, dan kasur semata. Dirinya memandang perempuan memiliki kemampuan lebih dari itu yang salah satunya membantu pemasaran produk dari UMKM.

    "Menurut pemantauan saya perempuan itu bisa menjadi corong yang luar biasa khususnya dari sisi pemasaran. Ketika perempuan dilibatkan dalam sebuah unit usaha maka mereka yang paling memahami kebutuhan. Menurut informasi yang saya dengar laki-laki itu mengeluarkan 7.000 kata per hari dan perempuan itu sekitar 20 ribu kata per hari. Sehingga ini corongnya produk untuk disebarluaskan ke manapun," pungkasnya.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id