UMKM, Hero di Posisi Zero

    Suci Sedya Utami - 11 Juli 2020 11:38 WIB
    UMKM, <i>Hero</i> di Posisi <i>Zero</i>
    UMKM. Foto: dok Kemenkop UKM
    Jakarta: Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sering dianggap sebagai pahlawan dan penggerak perekonomian nasional. Hal itu bukan isapan jempol semata mengingat UMKM menyumbang lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

    Namun sayangnya, menurut ekonom senior Indef Enny Sri Hartati, keberpihakan terhadap UMKM justru masih minim. Menurutnya belum ada solusi konkret yang benar-benar dibutuhkan oleh UMKM agar mampu tumbuh maksimal.

    Enny memandang UMKM masih ditempatkan dalam posisi terbawah. Bahkan, ia menyebutnya, zero. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh selama ini dinilai Enny hanya sebagai retorika. "Kalau kita bicara UMKM selalu dianggap hero tapi selalu di posisi yang zero," kata Enny, dalam sebuah webinar, Jumat, 10 Juli 2020.

    Misalnya, ia memberikan contoh, terkait dengan persoalan permodalan. Peraturan Bank Indonesia mewajibkan pembiayaan pada UMKM minimum 20 persen. Namun menurut Enny, angka tersebut belum bisa dicapai. Banyak UMKM terutama yang berada dalam kategori ultra mikro takut untuk meminjam modal ke bank lantaran banyaknya persoalan yang menghambat.

    Contohnya membuat administrasi keuangan, agunan, dan lain sebagainya. Hal ini yang membuat UMKM biasanya lebih memilih untuk pinjam ke rentenir. "Kalau usaha bisa dibiayai dengan biaya yang lebih efisien, enggak mungkin para pelaku UMKM mengambil bunga yang jaih lebih tinggi bahkan ambil ke rentenir dengan bunga per hari," tutur Eni.

    Selain itu, menurut Enny, kendala birokrasi, perizinan, hingga pungutan biaya membuat UMKM enggan untuk mengurus legalitas. Akibatnya UMKM tidak bisa naik level dan kerap menjadi juara bertahan karena berada di tingkat yang sama.

    Enny meminta apabila UMKM dianggap sebagai penopang perekonomian nasional, maka tempatkan UMKM pada porsi semestinya. Oleh karenanya, dirinya mengharapkan agar pemerintah bisa lebih konkret dalam membantu mengatasi persoalan UMKM terutama di saat seperti ini ketika menjadi pihak yang terdampak pandemi.

    Meski pemerintah telah mengalokasikan Rp123,46 triliun untuk pemulihan ekonomi bagi sektor UMKM, lanjutnya, namun pada realisasinya anggaran yang terserap belum maksimal. Ia meminta agar pemerintah juga membantu untuk meningkatkan akses pasar, misalnya, dengan bersinergi bersama Badan Usaha Milik Negara (BUMN), atau memasukkan produk UMKM dalam daftar pengadaan barang dan jasa di katalog LKPP.

    "Yang dihadapi UMKM sekarang mereka kehilangan permintaan. Bagaimana mereka bisa produksi kalau enggak ada buyer. Jadi bagaimana pemerintah memfasilitasi agar ada daya belinya," ujar dia.

    Selain itu, pemerintah juga diminta memberikan pendampingan dalam memberikan keterampilan menentukan kemasan agar lebih menarik. Menurut Enny, apabila hal-hal tersebut dilakukan dengan lebih konkret maka ekonomi Indonesia bisa bangkit akibat terinfeksi covid-19 dan bisa keluar dari jebakan resesi.

    "Kalau ingin perekonomian kita tidak diambang resesi, selamatkan UMKM," jelas Enny.

    Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi VI DPR RI Marwan Jafar mengatakan apabila UMKM dianggap sebagai pilar ekonomi kerakyatan, maka saat ini adalah momentum yang bagus untuk menggerakkan, mengembangkan sekaligus menduniakan UMKM nasional. Sebab diakui politikus PKB ini, UMKM Indonesia saat ini belum menggeliat. Menurut dirinya, pemerintah belum secara serius memperhatikan UMKM.

    "Ini adalah momentum yang tepat supaya tidak retorika saja, tapi betul-betul UMKM jadi andalan recovery ekonomi kita," kata mantan Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi ini.

    Sementara itu, Asisten Deputi Permodalan Kemenkop UKM Fixy mengatakan momentum korona bisa digunakan bersama-sama sebagai upaya untuk refleksi kebijakan yang dianggap masih kurang dalam mendukung UMKM.

    "Dengan adanya korona kita bisa melihat ternyata kita enggak siap di sini, kurang di situ. Jadi sama-sama kita saling bangun dan mendorong dan saling menguatkan UMKM kita," pungkas Fixy.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id