Mengolah Kardus Jadi Fulus

    Media Indonesia - 17 Juli 2020 06:14 WIB
    Mengolah Kardus Jadi Fulus
    Foto: AFP.
    SUATU hari di September 2015, Sanjaya Akmal Arifin bingung untuk membelikan hadiah atau kado untuk ulang tahun sang buah hati. Sebagai seorang satpam, pria berusia 40 tahun itu tak punya cukup uang untuk membeli mainan mahal. Namun, dia tak habis akal.

    Dikumpulkannya sejumlah kardus bekas di kantornya. Barang tidak terpakai itu lantas disulapnya menjadi rumah-rumahan untuk sang buah hati.

    Iseng-iseng, pria yang akrab disapa Baba ini pun mengunggah hasil karya perdananya di media sosial. Tak disangka responsnya cukup baik, bahkan banyak yang memintanya untuk dibuatkan rumah kardus yang sama. Seiring dengan banyaknya pesanan yang diterima, Sanjaya pun akhirnya memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Dia kini fokus mengurus workshop kardus yang ia beri nama 'Bumi Kardus'.

    "Mulanya sembari kerja, saya cari kardus bekas lalu bikin rumah kardus. Ternyata berkembang enggak hanya rumah kardus, saya juga bikin berbagai mainan lainnya, seperti mobil, kitchen set yang skalanya itu hampir sama besar, jadi kalau mobil bisa dinaikin, kalau kitchen set bisa buat masak-masakan," ujar Sanjaya.

    Seiring banyaknya pesanan, Sanjaya pun resign dari pekerjannya. Ternyata, keputusannya tepat, karena usahanya justru makin berkembang. Dia tidak hanya memproduksi rumah mainan, tapi juga macam-macam. "Bahkan mulai ada yang minta bikin dekorasi dan instalasi dari kardus," lanjutnya.

    Berkat usahanya ini, ia kini mampu mengumpulkan fulus (uang) untuk menghidupi keluarganya. Konon, omzetnya bisa mencapai Rp20 juta hingga Rp30 juta per bulan. Menurut penuturan Sanjaya, proyek instalasi kardus pertama yang ia garap ialah wahana bermain berbentuk kapal-kapalan. Orderan ini ia dapat dari komunitas parenting.

    Saat mengerjakan proyek ini, Sanjaya sempat kesulitan merancang konstruksinya. Tantangannya ialah ia harus membangun wahana yang tak hanya sebatas dekorasi, namun juga harus memiliki konstruksi kokoh karena akan difungsikan menjadi tempat bermain anak.

    "Jadi hampir mirip kayak kapal beneran, tapi dari kardus, dan itu bukan hanya dipajang, tapi juga jadi wahana main anak-anak. Karena semua materialnya kardus, jadi aman buat anak," kenang pria berkepala plontos tersebut.

    Ramah Lingkungan

    Hampir lima tahun Sanjaya berkutat dengan kardus, dan dalam pergumulannya inilah ia kemudian mulai dekat dengan isu-isu ling kungan hidup. Bahkan, belakangan cukup sering, dia dan perusahaannya (Bumi Kardus) mengampanyekan prinsip-prinsip daur ulang sederhana melalui berbagai workshop yang rutin mereka adakan.

    "Saya belajar mengenai lingkungan hidup pun seiring waktu. Awalnya, saya enggak ngerti material yang saya pakai ini ternyata banyak dirujuk sebagai material alternatif yang ramah lingkungan. Cuma yang saya tahu ialah memanfaatkan kardus bekas menjadi hal lain yang punya nilai guna," aku pria yang sampai hari ini menjabat Pamong Saka (Pembina Pramuka) Bahari, di Jakarta Selatan ini.

    Menurut Sanjaya, kardus merupakan material alternatif yang mudah dibentuk menjadi berbagai hal dan mudah didapatkan. Selain itu, kardus juga lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan material lainnya jika digunakan sebagai material dasar untuk membangun instalasi maupun dekorasi.

    Berbekal pengetahuan ini, dia pun mulai berinovasi dengan beberapa terobosan desain. "Kardus itu kan simpel, kalau enggak dipakai bisa dilipat, nanti kalau pengen dirakit, tinggal dilakban atau di-staples kan bisa," ungkap pria yang memiliki hobi bersepeda ini.

    Jenis-jenis produk yang biasanya dia produksi selainan mainan replika, wahana bermain anak, dan instalasi dekorasi seperti booth portable dan showroom stands, dia juga kini membuat hampers atau kemasan.

    Lantas, darimana Sanjaya punya ilmu mengemas kardus ini, terutama soal konstruksinya? "Kalau soal konstruksi ini ilmunya adalah learning by doing. kardus ini kan kebanyakan yang dibahas soal kemasan, tapi kalau soal konstruksi ini, kita harus coba-coba, yang penting enggak berhenti kreatifnya," imbuh Sanjaya, yang kini bahkan sudah bisa bikin panggung dari kardus yang kekuatannya cukup baik.

    Meski cuma tamatan SMP, pria ini mampu mengolah kardus bekas menjadi benda bernilai guna dan melestarikan lingkungan.

    Kata Sanjaya, kebanyakan klien yang menggunakan jasa Bumi Kardus ialah perusahaan-perusahaan yang memang telah cukup lama berkomitmen terhadap lingkungan hidup. Banyak di antara klien-klien yang tertarik untuk mengadopsi konsep dekorasi ramah lingkungannya, karena prinsip sustainable yang mereka usung.

    "Kalau kita ngomongin dekorasi, biasanya mentoknya di bahan baku sterofoam atau banner printing yang sering kali setelah acara selesai jarang disentuh lagi, ibarat kata sudah enggak ada value-nya," terang Sanjaya menjelaskan kelebihan kardus sebagai material ramah lingkungan.

    Sanjaya juga mengedukasi klien atau user-nya tentang penggunaan produknya yang bisa disimpan dan sewaktu-waktu bisa digunakan kembali.

    "Dekorasi seperti ini ternyata lebih hemat untuk user, dan sekaligus ini menjadi bentuk partisipasi mereka dalam kampanye terkait lingkungan hidup," tegasnya.

    Sanjaya optimistis jika ke depannya bisnis dekorasi kardus itu akan berkembang pesat di Indonesia, seiring dengan meningkatnya komitmen perusahaan-perusahaan terhadap isu isu lingkungan hidup. (Bagus Pradana/MI)

    (AHL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id