comscore

Sederet Tantang UKM untuk Mendunia

Achmad Zulfikar Fazli - 28 Juni 2022 17:35 WIB
Sederet Tantang UKM untuk Mendunia
Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM bidang Produktivitas dan Daya Saing, Yulius. Dok. Istimewa
Jakarta: Usaha Kecil dan Menengah (UKM) menjadi tulang punggu perekonomian di Indonesia. Namun, UKM di Indonesia masih kesulitan dalam menembus pasar dunia, sehingga kontribusinya terhadap ekspor nasional minim.

Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM bidang Produktivitas dan Daya Saing, Yulius, membeberkan faktor-faktor yang membuat UKM kesulitan menembus pasar dunia. Tantangan pertama, yaitu persoalan Logistics Performance Index (LPI) Indonesia tergolong rendah senilai 3,15. Sementara itu, LPI negara lain, seperti Jerman senilai 4,2, Swedia 4,05, Belgia 4,04, Singapura 4,0, dan Jepang 4,03.
Namun, jika dibandingkan dengan negara yang lower middle income group, seperti India, atau emerging economies, seperti Vietnam dan Cote d’Ivoire, LPI Indonesia tidak tertinggal terlalu jauh.

"Hal ini mengindikasikan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk bisa memperbaiki indeks tersebut," kata Yulius dalam acara Bangga UKM Indonesia dengan tema 'Win Local, Go Global' dan disaksikan secara daring, Selasa, 28 Juni 2022.

Tantangan kedua, biaya logistik yang tinggi di Indonesia, yaitu 24 persen dari produk domestik bruto (PDB) nasional. Menurut Yulius, biaya logistik di negara lain, seperti Malaysia hanya 13 persen, India 14 persen, China 14 persen, dan Vietnam 20 persen.

Padahal, logistik menjadi salah satu tulang punggung dari perdagangan lintas negara. Dia menegaskan manajemen logistik yang bagus mampu mengurangi trade cost dan membantu negara bersaing di kancah global.

Ketiga, proses border compliance di Indonesia membutuhkan waktu 56 jam. Sedangkan pada proses documentary compliance membutuhkan waktu 61 jam. Berbeda dengan China yang hanya membutuhkan waktu kurang dari 24 jam.

Tantangan keempat, pandemi covid-19. Masa pandemi mengakibatkan kelangkaan yang menyebabkan semakin tingginya biaya ekspor.

"Terjadi kenaikan harga sewa rata-rata 152 persen. Tujuan Asia naik 110 persen, Eropa 199 persen, Amerika 126 persen, Australia 155 persen, dan Afrika 173 persen," beber dia.
 

Baca: UKM Indonesia Tampil di Seoul Food and Hotel 2022


Tantangan kelima yang menjadi hambatan UKM Indonesia mendunia adalah urusan pembiayaan. Yulius mengatakan banyak UKM-UKM di Indonesia justru tidak sanggup melakukan ekspor ketika permintaannya meningkat. Masalah utamanya adalah kesulitan pendanaan.

"Kita tahu bahwa sumber pendanaan dari perbankan itu hanya 20 persen untuk UMKM. Bank belum bisa memberikan lebih daripada itu," kata dia.

Pendanaan UKM

Yulius mengatakan pemerintah telah mendorong perbankan untuk memberikan pendanaan bagi UKM hingga 30 persen dari total pinjamannya pada 2025. Jika dibandingkan dengan 20 persen pinjaman perbankan, sektor UKM bisa menyediakan 97 persen tenaga kerja.

Sementara itu, 80 persen pinjaman kepada pengusaha besar hanya bisa menciptakan tenaga kerja sebesar 3 persen. Menurut dia, fenomena ini sangat kontradiktif.

Tantangan UKM untuk mendunia selanjutnya adalah masalah kualitas barang. Kualitas barang UKM yang ingin dikirim ke luar negeri harus sudah sertifikasi uji layak atau tidak. Untuk melakukan sertifikasi produk, UKM kembali terkendala masalah biaya.

"Ini kira-kira yang membuat kita selalu kalah bersaing dengan negara lainnya. Karena dalam ekspor itu yang paling utama adalah kualitas, kuantitas, dan ketersediaan," ujar dia.

Demi mengatasi permasalahan itu, kata Yulius, pemerintah melakukan pelatihan pendidikan kepada UKM untuk bisa melakukan ekspor. Lalu, pemerintah berupaya mendorong agar UKM dapat melek digital.

Namun, UKM yang melek digital baru mencapai 12 juta. Pemerintah akan mendorong agar UKM yang melek digital mencapai 30 juta pada 2030.

Pemerintah juga mendorong UKM bisa bekerja sama dengan pengusaha besar dalam urusan ekspor. Tujuannya, biaya modal yang dikeluarkan tidak terlampau besar.

Selain itu, Yulius membeberkan produk yang menjadi andalan Indonesia dan dicari-cari oleh negara lain. Pada komoditas pertanian seperti nanas, pisang, dan melon; perikanan seperti tuna sirip kuning, udang, dan kepiting; furnitur seperti bambu dan kayu; kopi; coklat; teh; dan rempah-rempah.

"Negara tujuan ekspor utama China, Amerika Serikat, Jepang, India, dan Singapura," ujar Yulius.
 

Baca: Berperan Besar ke Ekonomi, Bank DKI Terus Genjot Pertumbuhan UMKM


Sementara itu, CEO Revolt Industry Stephen Firmawan Panghegar mengatakan tak semua UKM bergantung kepada pemerintah dan lonjakan perbankan. Sejak berdiri pada 2014, Revolt Industry sangat mandiri dengan modal awal Rp7 jutaan.

Dia memulai usahanya ini mulai dari garasi dengan dibalut mimpi dan keresahan. Dia sudah menghadapi sujumlah untuk bertahan.

"Dari garasi, di tahun pertama kebakaran, kemalingan, kebanjiran, dan pandemi. Tapi kita berdiri lagi," kata Stephen.
 
Stephen mengakui pagebluk menjadi batu sandungan terbesar untuk Revolt Industry. Selama pandemi, pendapatan Revolt Industry lewat ekspor turun drastis dari 25 persen menjadi 10 persen per tahun.

"Saat ini, total omzet kami per bulannya mencapai Rp400, sumbangan ekspor masih sangat kecil, yaitu Rp40 jutaan," ujar dia.

(AZF)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id