Minyak Dunia ke USD50

    Virus Korona Bisa Bikin Harga BBM Turun

    Faustinus Nua - 10 Februari 2020 08:10 WIB
    Virus Korona Bisa Bikin Harga BBM Turun
    Ilustrasi. Foto: AFP.
    Jakarta: Tren harga minyak mentah dunia terus merosot selama dua minggu terakhir mendekati level USD50 per barel. Hal itu dikarenakan melemahnya permintaan global akibat adanya kekhawatiran pasar terhadap penyebaran virus korona.

    Hingga Sabtu, 8 Februari 2020, minyak mentah berjangka Brent (ICE) untuk pengiriman Maret turun 31 sen atau 0,57 persen menjadi USD54,45 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret turun 39 sen atau 0,77 persen ke level USD50,34 per barel.

    Menanggapi hal tersebut, pengamat energi Direktur Eksektutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai turunnya harga minyak mentah dunia akan berpengaruh pada harga BBM di Indonesia. Mulai awal Maret diprediksi akan terjadi penurunan harga BBM di level Rp7.000 hingga Rp7.500 per liter untuk jenis pertalite.

    "Harga minyak sekarang ini akan berpengaruh pada harga BBM di Maret/April sekitar di level Rp7.000-Rp7.500 per liter (pertalite). Tapi untuk penentuan harga BBM perlu dicermati harga minyak 2-3 bulan terakhir," kata Fabby, kepada Media Indonesia Minggu, 9 Februari 2020.

    Menurutnya, melemahnya harga minyak metah dunia saat ini yang mendekati level USD50 per barel tidak serta merta langsung berpengaruh terhadap harga BBM. Pasalnya, harga tersebut merupakan harga di pasar spot, sedangkan pasokan BBM Tanah Air sudah disediakan sejak beberapa bulan sebelumnya.

    "Pertamina beli minyak sudah 2-3 bulan lalu untuk pasokan Januari/Februari ini. Jadi harga minyak sekarang pengaruhnya pada harga BBM di Maret/April," imbuhnya.

    Dengan turunnya harga minyak dan apabila terus berlangsung beberap bula ke depan maka tentu saja akan mendorong ekonomi domestik. Sektor-sektor industri menurutnya akan lebih bergairah dan daya beli masyarakat pun akan meningkat.

    Namun, apabila harga minyak terus berada di bawah indikator harga migas atau Indonesian Crude Price (ICP) yakni USD65 per barel, maka akan berdampak pada penerimaaan negara dan investasi sektor migas ke depan.

    "Kalau harga minyak mentah di bawah ICP, penerimaan negara berkurang. Lalu kalau harga minyak rendah maka biasanya minat eksplorasi menurun," pungkasnya.




    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id