Menteri ESDM Kaji Biaya Pengembangan Pembangkit Nuklir

    Suci Sedya Utami - 28 November 2019 08:06 WIB
    Menteri ESDM Kaji Biaya Pengembangan Pembangkit Nuklir
    Menteri ESDM Arifin Tasrif. Foto: Medcom.id/Suci Sedya.
    Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif sepakat membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Hanya saja pembangunannya tidak bisa dilakukan saat ini.

    Dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, Arifin mengatakan pengembangan PLTN masih terkendala oleh biaya yang tinggi. Sehingga apabila tetap dibangun tanpa merumuskan skema yang cocok, maka akan berakibat pada tingginya harga jual listrik.

    Berdasarkan data yang didapatkan dari Jepang, yang sudah terlebih dahulu menerapkan PLTN, biaya listrik per kilo watt amphere (kWh) mencapai USD30-USD40.

    "Kami prinsipnya sepakat PLTN, tapi saat ini biayanya yang perlu kita kaji, karena investasinya juga sangat besar," kata Arifin di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 27 November 2019.

    Selain itu, kata Arifin, sebelum diterapkan tentunya yang paling penting yakni menyosialisasikan terlebih dahulu penggunaan PLTN pada masayarakat sehingga nantinya tidak ada ketakutan untuk menggunakan energi berdaya nuklir.

    Lebih lanjut mantan Dubes Indonesia untuk Jepang ini mengatakan Indonesia memiliki potensi energi nuklir untuk dikembangkan untuk sistem kelistrikan, hanya saja jumlahnya belum signifikan.

    Salah satu Independent Power Producer (IPP) yang paling berminat kembangkan nuklir di Indonesia yakni Thorcon International Pte.Ltd. Perusahaan asal Amerika Serikat ini sudah siapkan dana investasi USD1,2 miliar untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT) di Indonesia berkapasitas 500 Megawatt (MW).

    Kepala Balitbang Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menyatakan masalah komersialisasi ini harus dikaji lebih lanjut oleh Thorcon dan melaporkan hasilnya ke pemerintah. Menurutnya Thorcon memang menjanjikan harga listrik murah dari PLTT yang dikembangkan namun harus ada perhitungan matang terhadap pembentukan harga tersebut.

    "Mereka sih klaim harganya USD7-USD8 per kwh. Tapi kan harus dibuktikan kajiannya, dan itu perlu waktu," kata Dadan.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id