Impor BBM Bisa Ditekan Tahun Ini

    Suci Sedya Utami - 08 Januari 2020 20:33 WIB
    Impor BBM Bisa Ditekan Tahun Ini
    Ilustrasi BBM. Foto : MI/Panca Syaukarni.
    Jakarta: Percepatan pengerjaan kilang minyak oleh PT Pertamina (Persero) membuat Indonesia di tahun ini bisa menekan impor bahan bakar minyak (BBM).

    Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai percepatan tersebut akan membuat kapasitas pengolahan BBM bertambah. Peningkatan pengolahan tersebut tentu membuat impor minyak dalam bentuk produk juga berkurang.

    "Paling tidak impor minyak mentah, tidak dalam bentuk produk," kata Komaidi pada Medcom.id, Rabu, 8 Januari 2020.

    Ia mengatakan selisih nilai impor antara minyak mentah dan BBM bisa mencapai USD15-USD20 per barel. Dia mengakui bahwa indonesia masih impor minyak mentah dalam jumlah besar. Hal ini karena produksi minyak mentah domestik tidak mampu mencukupi kebutuhan di dalam negeri.

    Namun demikian, selisih nilai tersebut tentu cukup signifikan karena bisa menekan defisit neraca transaksi berjalan. Di tambah lagi adanya kebijakan biodiesel juga efektif menekan impor.

    "Sama-sama impor, tapi impornya lebih murah. Sehingga tekanan terhadap rupiah tidak terlalu besar," jelas dia.

    Sebelumnya, Pertamina menyatakan mengakselerasi proses pembangunan beberapa proyek Refinary Development Master Plan (RDMP) atau revitalisasi kilang.

    Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang mengatakan untuk Kilang Balikpapan pihaknya bakal mengumumkan calon mitra strategis yang akan membantu pembangunan dalam rangka pengembangan kapasitasnya.

    Ia mengatakan nama-nama calon mitra pun telah mengerucut dari 60 calon mitra kerja strategis yang kemudian disaring menjadi 20, terakhir menyisakan empat calon mitra.

    Ia menjanjikan akan mengumumkan calon mitra terpilih di bulan Desember 2019. Tallulembang mengatakan penetapan mitra tersebut bahkan lebih cepat dari pada target awal di April 2020.

    Proyek RDMP Kilang Balikpapan nantinya akan meningkatkan kapasitas kilang tersebut yang saat ini mengolah dan memproduksi bahan bakar minyak (BBM) sebesar 260 ribu barel per hari (bph) menjadi 560 ribu bph. Selain itu meningkatkan kualitas produk dari EURO II ke EURO V.

    Kemudian Kilang Cilacap, Tallulembang mengatakan pihaknya bersama Saudi Aramco menyepakati untuk menyelesaikan perhitungan valuasi aset dari rencana revitalisasi kilang tersebut di Desember.

    Ia mengatakan kedua belak pihak pun sepakat untuk menggunakan satu internasional advisor untuk menghitung valuasi tersebut. Selama ini valuasi dilakukan masing-masing pihak baru nantinya disinkronkan bersama. Namun hingga saat ini cara tersebut masih belum membuahkan hasil.

    Tallulembang mengatakan tim advisor tersebut saat ini tengah bekerja. Ia bilang paling lama dalam satu bulan hasil perhitungan bisa dikeluarkan dan dibahas di masing-masing internal kedua belah pihak dan akan dibicarakan bersama.

    "Kesepakatan hasil valuasi paling lambat tahun ini. Semuanya diupayakan di akhir Desember 2019," ujar dia.

    Setelah valuasi selesai, dia bilang, tahapan selanjutnya akan masuk ke engineering. Ia bilang penandatanganan tahapan engineering diharapkan bisa dilakukan di awal tahun 2020.

    Proyek RDMP Kilang Cilacap nantinya akan meningkatkan kapasitas kilang tersebut yang saat ini mengolah dan memproduksi bahan bakar minyak (BBM) sebesar 348 ribu barel per hari (bph) menjadi 400 bph. Selain itu meningkatkan kualitas produk dari EURO II ke EURO V.




    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id