Pemerintah Revisi Penerapan Waktu Harga Batu Bara untuk Listrik

Annisa ayu artanti - 13 Maret 2018 18:55 wib
Batu Bara. Ant/Puspa Perwitasari.
Batu Bara. Ant/Puspa Perwitasari.

Jakarta: Pemerintah merevisi waktu penerapan harga batu bara domestik (Domestic Market Obligation/DMO) yang pekan lalu ditetapkan sebesar USD70 per ton.

Masa berlaku yang sebelumnya berlaku surut sejak 1 Januari 2018 menjadi berlaku mulai 12 Maret 2018. Ketentuan tersebut merubah Keputusan Menteri ESDM Nomor 1395K/30/MEM/2018 tentang penjualan mineral logam dan batu bara menjadi Keputusan Menteri ESDM Nomor 1410/30/MEM/2018.

Direktur ‎Jenderal Mineral dan Batubara Kementeri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot menjelaskan, alasan merubah masa berlaku itu dilakukan untuk mempermudah administrasi keuangan.

"Alasannya supaya administrasi keuangannya supply mudah," kata Bambang, di Kantor Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa, 13 Maret 2018.

Atas revisi itu, maka kontrak penjualan yang dilakukan sejak 1 Januari 2018 lalu juga akan direvisi.

Sebelumnya, Kementerian ESDM menetapkan harga batu bara untuk kelistrikan sebesar USD70 per ton dengan nilai kalori 6.322 GAR. Harga tersebut berada di bawah Harga Batu Bara Acuan (HBA) yang saat ini sebesar USD101,86 per ton.

Penetapan harga khusus tersebut berlaku surut sejak 1 Januari 2018 hingga Desember 2019. Artinya, kontrak-kontrak penjualan yang sudah berjalan sejak 1 Januari 2018 akan disesuaikan.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan penentuan HBA ditetapkan dalam Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 1395K/30/MEM/2018 Tentang Harga Batu Bara untuk Penyediaan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Umum.

Penetapan harga tersebut hanya berlaku bagi penjualan kelistrikan nasional. Sedangkan, penetapan harga di luar kepentingan tersebut tetap mengacu pada HBA.

"Kemudian ditetapkan harga kebutuhan batu bara dalam negeri sesuai kebutuhan pembangkit listrik sebesar USD70," kata Agung Pribadi.

Apabila nantinya HBA berada di bawah USD70 per ton maka pembelian untuk kebutuhan pembangkit listrik juga akan disesuaikan. Sementara besaran pembayaran royalti dan pajak dihitung berdasarkan harga transaksi. Tetapi jika penjualan ekspor di atas harga pasar, royalti tetap dipatok pada harga HBA sesuai indeks tersebut.


(SAW)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.