Kementerian ESDM Cermati Dampak Virus Korona ke Harga Minyak

    Suci Sedya Utami - 04 Februari 2020 21:00 WIB
    Kementerian ESDM Cermati Dampak Virus Korona ke Harga Minyak
    Ilustrasi. (FOTO: AFP)
    Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mencermati dampak perkembangan penyebaran Virus Korona terhadap sektor minyak dan gas (migas). Apalagi Organisasi negara-negara pengekspor minyak bumi (OPEC) berencana memangkas kembali produksi.

    Plt Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Ego Siswanto mengatakan terdapat kemungkinan apabila produksi kembalo dipangkas maka akan diharapkan akan berpengaruh meningkatkan harga minyak yang terkekan karena kekhawatiran pasar terkait virus yang diduga berada dari Kota Wuhan, Tiongkok tersebut.

    "Belum dengar soal rencana OPEC, tapi mungkin saja (mempengaruhi harga). kita akan mengamati juga," ujar Ego singkat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 4 Februari 2020.

    Komisi Teknikal Bersama OPEC dan Non-OPEC dijadwalkan bertemu pada 4-5 Februari 2020 di Vienna. Pertemuan tersebut digelar untuk membahas dampak virus Korona terhadap permintaan minyak.

    Pertemuan tersebut kemungkinan akan menghasilkan rekomendasi terkait kebijakan pemangkasan produksi minyak anggota negara OPEC, baik diperbesar jumlahnya atau diperpanjang setelah Maret 2020.

    OPEC tengah mempertimbangkan opsi terbaik untuk menghadapi potensi dampak dari menyebarnya virus Korona. Akibat virus tersebut, lebih dari 300 orang meninggal dunia dan harga minyak terus melemah.

    Harga minyak telah turun hingga dua persen atau menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir seiring meningkatnya kekhawatiran pasar akan dampak wabah virus Korona. Namun, harga minyak mulai menguat pada akhir pekan lalu setelah OPEC diproyeksi melanjutkan pemangkasan produksi minyak.

    Korban meninggal dunia akibat virus Korona telah mencapai 304 orang pada Minggu, 2 Februari pagi. Jumlah pasien yang terinfeksi pun meningkat menjadi 14.380 orang di Tiongkok.

    Jumlah korban meninggal dunia sebanyak 45 orang berada di Provinsi Hubei. Wuhan, Hubei merupakan daerah pertama kali ditemukannya kasus virus Korona. Di provinsi itu, 9.074 orang terinfeksi 2019 N-CoV.

    Meski begitu, sebanyak 215 orang di provinsi Hubei sembuh dari infeksi virus Korona. Secara keseluruhan, 322 dinyatakan sembuh.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan wabah virus Korona sebagian besar masih berpusat di Hubei, Tiongkok. Sekitar 60,5 persen kasus di Negeri Tirai Bambu sejak awal berasal dari daerah tersebut. Sisanya berasal dari 33 provinsi, wilayah, dan kota lain.

    Jumlah kasus terbesar kedua berasal dari provinsi Zhejiang. Selanjutnya, 101 dari 132 orang yang terinfeksi di luar Tiongkok, karena telah melakukan perjalanan ke Negeri Panda dalam 14 hari sebelum mewabahnya virus Korona.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id