Komisi VII Pertanyakan Target Produksi Satu Juta Barel di 2025

    Suci Sedya Utami - 04 Februari 2020 19:37 WIB
    Komisi VII Pertanyakan Target Produksi Satu Juta Barel di 2025
    Ilustrasi. FOTO: AFP.
    Jakarta: Anggota Komisi VII DPR Fraksi Partai Gerindra Kardaya Warnika mempertanyakan target produksi minyak satu juta barel pada para anak usaha PT Pertamina (Persero) yakni PT Pertamina EP dan PT Pertamina Hulu Energi.

    Dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan kedua perusahaan tersebut, Kardaya mengatakan apakah target tersebut merupakan angka yang logis dan realistis atau hanya menjadi mimpi. Apalagi target tersebut dipercepat dari 2030 menjadi 2025.

    Kardaya mengatakan jawaban kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) tentu sangat dibutuhkan mengingat jika memang logis, angka itu akan menjadi pegangan pemerintah untuk membuat perencanaan. Sehingga dibutuhkan jawaban yang tegas.

    Sebab kata dia, menurut ahli migas dari ITB, angka tersebut sulit dicapai apalagi jika melihat kondisi hulu migas saat ini yang mengalami penurunan produksi.

    "Target satu juta barel 2025 atau 2030 itu masuk akal logis atau tidak? Angka ini akan jadi pegangan pemerintah dan negara untuk merencanakan yang lainnya, anggaran dan macam-macam," kata Kardaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 4 Februari 2020.

    Dalam kesempatan tersebut Presiden Direktur PT Pertamina EP Nanang Abdul Manaf menganggap target produksi satu juta barel minyak yang digagas oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) merupakan angka yang logis. Meskipun diakui dirinya target tersebut menjadi tantangan bagi Pertamina EP untuk meningkatkan produksi.

    "SKK Migas kan mau produksi satu juta barel. Maka kami perlu melakukan penemuan yang besar, ini adalah tantangan bagi kami," kata Nanang.

    Ia bilang target tersebut bisa dicapai dengan syarat berbagai skenario dilakukan. Selain itu perlu ada penemuan cadangan migas baru dalam jumlah yang besar (giant discovery). Jika tidak ada penemuan besar maka, maka tantangan tersebut akan sulit dicapai.

    Oleh karenanya perlu adanya eksplorasi. Nanang bilang apabila tidak ada eksplorasi dan pengembangan maka produksi akan mengalami penurunan 30 persen setiap tahunnya.

    "Kalau (menurut) saya logis dengan syarat skenario yang dibuat oleh SKK Migas jalan semua misal onstream masela thun berapa benar-benar jalan dan pengembangan lapangan-lapangan tertentu benar terjadi," jelas Nanang.

    Dalam kesempatan yang sama Direktur Utama Pertamina Hulu Energi Meidawati mengatakan pihaknya akan mengupayakan agar target tersebut bisa dicapai. Sebab berdasarkan data dari lapangan-lapangan yang dikelola pihaknya, terjadi peningkatan produksi misalnya saja di Blok ONWJ dan Blok OSES.

    "Mungkin enggak mungkin kita harus tetap optimistis berdasarkan data. Kita akan tetap support dan kembali lagi harapan itu tetap ada. Kami akan tetap usaha untuk tingkatkan produksi. Kami bersama seluruh PHE akan coba bisa merealisasikannya. Saya meyakinkan seperti," tandas Meidawati.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id