Biaya EOR Pertamina EP Lebih Hemat dari Medco dan Chevron

    Suci Sedya Utami - 12 Maret 2019 15:57 WIB
    Biaya EOR Pertamina EP Lebih Hemat dari Medco dan Chevron
    Vice President EOR Pertamina EP Andi W Bachtiar. (FOTO: Medcom.id/Suci Sedya Utami)
    Jakarta: Anak usaha PT Pertamina (Persero), PT Pertamina EP menggunakan teknologi echanced oil recovery (EOR) guna mendongkrak produksi minyak dan gas (migas). Metode ini digunakan untuk memperoleh minyak dengan material fluida khusus yang tidak terdapat pada reservoir. Penggunaan teknologi ini juga diyakini bisa menghemat biaya.

    Vice President EOR Pertamina EP Andi W Bachtiar mengatakan penerapan teknologi tersebut di dunia sudah marak digunakan. Namun di Indonesia masih sangat jarang, bahkan baru hanya berupa pilot project belum penerapan menyeluruh.

    Andi menyebutkan ada empat pilot project di Indonesia yang menggunakan teknologi EOR polymer flooding yang salah satunya dilakukan oleh Pertamina EP. Andi mengatakan dari beberapa pilot project tersebut, proyek milik Pertamina EP yang memiliki biaya paling efisien.

    Pilot project Pertamina EP berada di Lapangan Tanjung dengan mengaplikasikan polymer flooding. Selain Pertamina EP ada juga Chevron Pacific Indonesia di Lapangan Minas dengan metode surfactant polymer flooding. Kemudian ada juga Medco Rimau di Lapangan Kaji-Semoga menggunakan metode surfactant flooding dan CNOOC di Lapangan Widuri dengan metode polymer flooding.

    "Punya kita yang pilot project di Tanjung itu USD4 juta untuk set up semua, lebih murah dari pemboran," kata Andy dalam diskusi strategi dan inovasi Pertamina EP dalam mendongkrak produksi migas di Hotel Oria, Jakarta Pusat, Selasa, 12 Maret 2019.

    Andi menyatakan jika dibandingkan dengan pilot project yang dikerjakan oleh Medco dan Chevron tentu lebih murah. Ia menyebutkan Medco mengeluarkan USD24 juta untuk pilot project. Sedangkan Chevron mengeluarkan USD165 juta.

    Dirinya menambahkan untuk Lapangan Tanjung membutuhkan eman titik injeksi atau disebut juga full scale. Namun karena baru berupa pilot project maka hanya satu titik yang diinjeksi menggunakan polymer flooding. Menurut perkiraan full scale bisa dilaksanakan di kuartal VI-2021.

    "Kalau full scale Lapangan Tanjung butuh USD120 juta untuk injeksi polymer," jelas dia.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id