2020, Pertamina Siapkan Rp8,27 Triliun untuk Proyek JTB

    Suci Sedya Utami - 18 Desember 2019 11:57 WIB
    2020, Pertamina Siapkan Rp8,27 Triliun untuk Proyek JTB
    Kondisi Lapangan JTB. FOTO: Medcom.id/Suci Sedya Utami
    Bojonegoro: PT Pertamina EP Cepu (PEPC) menyatakan alokasi Anggaran Biaya Investasi (ABI) untuk proyek Jambaran Tiung Biru (JTB) di Blok Cepu sebesar USD591 juta atau setara Rp8,27 triliun untuk 2020. Besaran tersebut naik signifikan dibandingkan dengan di 2019 dan 2018 yang masing-masing sebesar USD331 juta dan USD174 juta.

    Adapun realisasi ABI hingga November 2019 mencapai USD297 juta. "Anggaran tersebut akan digunakan untuk pembangunan Gas Processing Facility (GPF), pengeboran sumur-sumur (drilling), serta akuisisi lahan," kata Direktur Utama PEPC Jamsaton Nababan, dalam diskusi dengan media, di Bojonegoro, Rabu, 18 Desember 2019.

    Jamsaton mengatakan proyek JTB menghabiskan investasi sebesar USD1,55 miliar atau setara Rp21,7 triliun. Investasi tersebut berasal dari pinjaman oleh delapan bank dengan komposisi empat bank domestik antara lain Bank Mandiri, BRI, BNI dan BTPN serta delapan bank asing yang beberapa di antaranya HSBC dan MUFG.

    Adapun anak usaha PT Pertamina (Persero) ini sudah menyelesaikan pengeboran trayek lubang 12-1/4 di sumur Jambaran 3 (JAM-3) dan JAM-5 yang berlokasi di Lapangan Gas Jambaran East. Sementara JAM-8 masih dilakukan pengeboran dan setelahnya sumur re-entry JAM-4.  Tahap berikutnya adalah mengerjakan Sumur JAM-6 dan Sumur JAM-7 yang berada di Jambaran Central.

    "Kami akan memulai lagi pengeboran dua sumur tersebut pada tahun depan," ujar Jamsaton.

    PEPC bekerja sama dengan Pertamina Drilling Services beserta sub-kontraktornya mengawali pekerjaan operasi pengeboran ini dari Juli hingga September dengan mengusung rig dari Kabupaten Blora. Dalam kegiatan mobilisasi peralatan berat ini, PEPC bekerja sama dengan Polsek setempat untuk mengawal perjalanannya.

    Selain itu telah diselesaikan juga sebagian  mobilisasi alat berat untuk mendukung pekerjaan fasilitasi produksi gas (GPF) yang berada di wilayah Bandungrejo. Pekerjaan pembangunan rekayasa pengadaan dan konstruksi (EPC) GPF ini dilakukan memindahkan alat absorber dan selexol menggunakan kendaraan multiaxle-1 pada awal Desember lalu.

    Kontraktor EPC GPF, Rekayasa Industri–Japan Gas Corporation–Japan Gas Indonesia (RJJ) melakukan koordinasi intens dengan dinas terkait dan juga aparat pengamanan. Di antaranya Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN), Kepolisian Resor Gresik, Lamongan dan Bojonegoro. Ketiga kabupaten tersebut merupakan daerah yang dilintasi kendaraan berat itu.

    Terdapat lima jembatan di Bojonegoro yang dilewati oleh kendaraan ini antara lain Jembatan Semar Mendem di Desa Trojalu, Baureno, Jembatan Besuki Kulon di Balen, Jembatan Pacal, di Kapas, Jembatan Jetak di Bojonegoro dan Jembatan Kalitidu, di Kalitidu Bojonegoro. Sebelumnya, kelima jembatan ini sudah diperkuat terlebih dahulu oleh Konsorsium RJJ.

    Langkah berikutnya di akhir 2019 ini, PEPC akan tetap menjalankan komitmen untuk mempercepat penyelesaian proyek JTB sehingga on-stream atau operasi tepat waktu pada 2021. "Kami berpegang teguh pada visi kami we change, move on, get better untuk menjadi world class company dengan membawa proyek strategis nasional ini selesai on-time," tegas Jamsaton.

    Lebih lanjut, Jamsaton mengatakan, pekerjaan rumah PEPC masih banyak antara lain menyelesaikan pengiriman peralatan kendaraan berat tahap berikutnya, pengeboran sumur, pembangunan fasilitas untuk produksi, perizinan untuk beberapa fasilitas hingga ke pengembangan kapasitas masyarakat.

    Proyek JTB memberikan nilai penting dan manfaat sedari masa konstruksi dengan memasukkan unsur penyerapan tenaga kerja. Dalam proyek ini, terdapat lebih dari 2.000 pekerja terlibat, dengan komposisi 70 persen tenaga kerja lokal dan 30 persen nonlokal yang terbagi dalam tiga kategori skilled, semiskilled, dan unskilled.

    Dengan kapasitas produksi gas 192 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dan cadangan 2,5 triliun kaki kubik (TCF) yang dialirkan melalui pipa gas Gresik-Semarang, proyek JTB akan memberikan efek pengganda (multiplier effect) dalam mengatasi defisit pasokan bagi setidaknya 19 sektor industri di Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk industri tekstil, ban, baja, keramik, serta makanan dan minuman.




    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id