Pemerintah Godok Tarif Listrik EBT per Daerah

    Suci Sedya Utami - 18 Januari 2020 11:24 WIB
    Pemerintah Godok Tarif Listrik EBT per Daerah
    Menteri ESDM Arifin Tasrif. FOTO: Medcom.id/Suci Sedya Utami
    Jakarta: Pemerintah tengah menggodok aturan baru terkait harga beli dari pembangkit listrik berbasis energi terbarukan (EBT) yang akan menggunakan skema feed in tariff untuk formula harga yang baru. Aturan ini dituangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) yang saat ini diproses oleh Kementerian Sekretariat Negara (Kemensesneg).

    Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menjelaskan dengan adanya aturan ini memungkinkan bagi masyarakat untuk menciptakan sumber energi listriknya sendiri dan tidak harus tergantung pada PT PLN (Persero). Selain itu swasta juga boleh ikut andil didalamnya.

    "Kita sekarang godok kebijakan baru mengenai tarif EBT small scale sehingga bisa jadi daya tarik. Tujuanya nanti yang berpartisipasi bisa masyarakat kecil, menengah," kata Arifin, di Jakarta, Jumat, 17 Januari 2020.

    Mantan Duta Besar Indonesia untuk Jepang ini menjelaskan dengan kebijakan off grid ini nantinya akan mengatur mengenai jenis harga energi per daerah. Artinya harga energi di setiap region tidak akan berbeda, jadi tidak lagi terpusat.

    Pemerintah ingin agar tarif yang diberikan memadai dan bisa mengakomodir masyarakat. Ia akan berkomunikasi dengan PLN untuk ikut berpartisipasi dalam melaksanakan penugasan-penugasan pemerintah kedepannya yang tujuannya tidak lain agar masyarakat bisa menikmati elektrifikasi 100 persen.

    "Selama ini harga yang kita terapkan sekian persen dari BPP (biaya pokok penyediaan listrik) rata-rata, tapi nanti kita per region, per jenis energi agar masyarakat setempat berpartisipasi membangun kemandirian," tutur Arifin.

    Dia menyatakan di daerah-daerah di luar Jawa, terutama di timur Indonesia yang memiliki sumber energi lain nantinya akan dibantu oleh pemerintah. Ia mengatakan nantinya pemerintah akan menyediakan turbin untuk mengubah sumber-sumber energi lain yang dimiliki masyarakat tersebut seperti biomasa, atau mikrohidro dan sebagainya untuk menjadi listrik.

    Lebih lanjut, ia mengatakan, kedepannya pemerintah akan memerhatikan izin-izin pengusahaan listrik yang diperjualbelikan.

    Sedangkan Penasihat Komisi Global Bidang Transformasi Energi Geopolitik di International Renewable Energy Agency (IRENA) Mari Elka menyambut baik rencana pemerintah untuk menetapkan tarif listrik EBT berdasarkan daerah.

    Mari mengatakan Indonesia saat ini tidak bisa lagi menggunakan istilah satu untuk semua (one size fit all). Sebab Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas dengan geografis yang berbeda antarpulau. Mari bilang Jawa-Bali mungkin bisa menggunakan centrailized grid. Namun di pulau-pulau terluar tidak bisa menggunakan hal tersebut.

    Ketergantungan pada minyak membuat Indonesia menjadi centrailized grid. Sedangkan era energi fosil akan habis di 2030 dan akan digantikan oleh sumber-sumber baru. Menurutnya di era energi terbarukan ini, Indonesia tidak bisa menggunakan satu kebijakan energi untuk semua daerah.

    Pasalnya, yang diterapkan di satu daerah belum tentu berhasil di daerah lainnya. Oleh karenanya, lanjut Direktur Pelaksana Bank Dunia ini, perlu dilakukan inovasi yang berbeda. Selain itu ia mengusulkan, agar monopoli PLN dalam distribusi setrum dilepas.

    "Jadi memang harus ke arah itu dan harus bisa istilahnya saya bisa create my own energy, i should jus manage myself. Enggak usah ada PLN di situ selama jadi keputusan bersama dan kalau ada aksesnya boleh enggak saya jual ke pulau sebelah. Kalau sekarang kan harus melalui PLN," pungkas Mari.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id