Kapasitas Listrik Terpasang RI Masih Kalah Jauh Dibanding Tiongkok

    Suci Sedya Utami - 09 Oktober 2019 16:24 WIB
    Kapasitas Listrik Terpasang RI Masih Kalah Jauh Dibanding Tiongkok
    Menteri ESDM Ignasius Jonan (kedua dari kiri). FOTO: Medcom.id/Suci Sedya Utami.
    Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan kapasitas listrik terpasang di Indonesia masih sangat jauh dibandingkan Tiongkok. Hal tersebut disampaikan Jonan dalam perayaan Hari Listrik Nasional.

    Jonan mengatakan Tiongkok memiliki kapasitas listrik terpasang mencapai 1.100 gigawatt (GW). Sementara di Indonesia di 2014 kapasitas listrik terpasangan baru 50 GW, 2019 hampir 70 GW dan di akhir 2024 ditargetkan mencapai 90 GW.

    "Kalau (masih kisaran) 100 GW itu sebetulnya kecil ya. Beberapa bulan lalu ada pertemuan bilateral Indonesia Tiongkok di bidang energi, kapasitas terpasang listrik untuk Tiongkok dibanding kita itu 15 kali," kata Jonan di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu, 9 Oktober 2019.

    Selain itu, Jonan pun menyatakan dari total kapasitas terpasang tersebut yang bersumber dari energi terbarukan mencapai 300 GW.  Sementara Indonesia, hingga kuartal pertama baru mencapai 7.218 megawatt (MW).

    Oleh karenanya, Jonan berharap agar PT PLN (Persero) lebih masif lagi dalam mengembangan listrik berbasis energi terbarukan. Salah satu yang digarisbawahi Jonan yakni melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

    "Besar sekali itu Tiongkok, harapannya mulai sekarang saya sangat berharap rekan PLN ini lebih pikirannya terbuka untuk energi terbarukan," tutur Jonan.

    Menurut Jonan kendati matahari merupakan energi yang harus diimpor karena tidak terdapat di bumi dan berada di luar angkasa, namun penggunaan energi matahari tidak sampai membebani devisa negara dan membuat neraca transaksi berjalan terjangkit defisit yang lebih parah.

    "Matahari itu kan impor di luar angkasa, kita impor tapi gratis. Makanya saya sangat mendorong pembangunan PLTS di atap," kata Jonan.

    Jonan menjelaskan saat ini pihaknya tengah menyusun peraturan untuk mendorong industri membangun PLTS. Meskipun tidak diwajibkan, namun diharapkan industri berminat sebab selain menghemat biaya listrik, penggunaan PLTS juga mampu mengurangi polusi.

    "Enggak diwajibkan, tapi nanti dia tergerak lah karena lebih efisien. Tunggu saja peraturannya dalam bentuk peraturan menteri, kita sesuaikan supaya industri mau pasang PLTS," ujar Jonan.

    Saat ini hampir semua gedung di Kementerian ESDM telah memasang PLTS Atap, salah satunya Gedung Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) Kementerian ESDM, Jalan Pegangsaan Timur Jakarta Pusat. PLTS Atap berkapasitas 20 kilo Watt peak (kWp) yang telah dipasang sejak 2015 tersebut memiliki kapasitas puncak 20.160 Watt per hari dengan pengisian baterai selama empat jam.

    Selain Gedung Ditjen EBTKE, Gedung Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM yang berlokasi di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan juga telah memasang PLTS sejak 2010. Saat ini kapasitas totalnya mencapai 130 kWp dan bisa menghemat biaya listrik gedung tersebut hingga Rp10 juta per bulannya.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id