Menilik Tantangan Pembangunan PLTN

    Nia Deviyana - 16 Agustus 2019 18:10 WIB
    Menilik Tantangan Pembangunan PLTN
    Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id)
    Jakarta: Pengamat energi Mamit Setiawan menilai energi nuklir memang lebih ramah lingkungan dibandingkan batu bara. Namun, untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), ternyata ada banyak kendala.

    "Dalam rancangan energi kita, pengembangan energi nuklir menjadi pilihan terakhir," ujar Mamit saat dihubungi Medcom.id, Jumat, 16 Agustus 2019.

    Mamit menjelaskan, tantangan pertama ada pada faktor geografis yang mana Indonesia berada pada zona ring of fire sehingga kemungkinan untuk terjadi gempa cukup besar.

    "Kalau ada satu daerah yang memungkinkan (bisa dibangun PLTN) itu Kalimantan, karena posisinya agak jauh dengan ring of fire," paparnya.

    Saat ini, kata Mamit, memang sudah banyak studi mengenai penerapan PLTN di wilayah yang rawan gempa. Salah satu negara yang gencar melakukan studi terkait hal tersebut adalah Jepang. Mamit bilang, Indonesia harus banyak belajar dari negara-negara yang sudah berpengalaman.

    "Kita memang sudah harus berpikir ke sana (PLTN) karena sudah banyak negara mengaplikasikannya," kata Mamit.

    "Yang terpenting kita harus banyak belajar, terutama jika nantinya pembangkit sudah tidak terpakai lagi, itu reaktornya akan dikemanakan? Harus dilakukan studi juga apakah kita akan membuat tempat penyimpanan atau bagaimana cara mengurainya," lanjut dia.

    Dewan Perwakilan Daerah (DPD) menyebutkan pembangunan Pembangkit Tenaga Nuklir (PLTN) merupakan langkah strategis nasional yang bisa didorong dalam mewujudkan kedaulatan energi di masa depan.

    Ketua DPD Oesman Sapta mengatakan, PLTN merupakan salah satu energi baru dan terbarukan yang bisa digunakan sebagai alternatif penggunaan energi selain energi fosil.

    Oesman menjelaskan, pembangunan PLTN diharapkan menjadi langkah strategis pemerintah untuk melakukan ekspor sumber daya alam dalam bentuk semi finishing product atau finishing product. Energi yang dihasilkan dari PLTN juga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan energi di masa depan.

    Ia memberi contoh keperluan listrik dalam pengembangan bauksit menjadi alumunium di Kalimantan. Menurutnya dibutuhkan energi yang sangat besar, stabil, murah, dan bebas polusi. Kebutuhan listrik tersebut dapat dipenuhi oleh pembangkit listrik tenaga nuklir.

    "Hal tersebut hanya akan dapat dipenuhi jika kita membangun energi baru dan terbarukan melalui pembangkit tenaga nuklir dan mengakhiri secara bertahap penggunaan energi fosil," ucap dia.

    Lebih lanjut, Oesman menambahkan, DPD juga mendukung pembangunan pembangkit tenaga nuklir di kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat dan wilayah lainnya.

    "Hal ini sesuai dengan hasil kajian dan riset tim penyiapan pembangunan PLTN dan komersialisasinya, bahwa Kabupaten Bengkayang layak untuk dijadikan percontohan," ujar dia.

    Berdasarkan hasil riset tersebut, katanya, sebanyak 87 persen masyarakat provinsi Kalimantan Barat setuju pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir.

    "Hasil riset menyatakan 87 persen masyarakat Provinsi Kalimantan Barat setuju pembangunan PLTN tersebut guna mendukung industrialisasi dan mensejahterakan masyarakat," tukas dia.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id