Buka Keran Impor tak Berarti Harga Gas Jadi Murah

    Suci Sedya Utami - 08 Januari 2020 19:38 WIB
    Buka Keran Impor tak Berarti Harga Gas Jadi Murah
    Jaringan gas. Foto : Kementerian Esdm.
    Jakarta: Pengamat energi yang juga merupakan Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai kebijakan pemerintah untuk membuka keran impor gas demi memenuhi kebutuhan industri dan membuat harga lebih murah bukanlah solusi.

    Menurut Komaidi gas yang diimpor bisa jadi harganya sama atau bahkan lebih tinggi ketimbang yang berasal dari dalam negeri. Ia mengatakan memang misalnya di Amerika Serikat (AS) harga gas lebih murah sekitar USD2-USD3 per Million Metric British Thermal Unit (MMBTU). Namun begitu sampai ke Indonesia bisa jadi harganya sudah mencapai USD8-USD9 per MMBTU.

    "Kan jalannya panjang dari sana juga perlu di-convert, itu kan butuh biaya. Nanti diangkut lagi dari AS ke Indonesia butuh biaya lagi. Sampai di sini diubah lagi dari cair ke gas supaya bisa digunakan. Begitu jadi gas, dia harus ditransmisikan lagi melalui pipa. Nah begitu sampai ke pengguna bisa sama atau lebih mahal," kata Komaidi pada Medcom.id, Rabu, 8 Januari 2020.

    Komaidi mengatakan sebetulnya problem harga gas di setiap daerah tidak bisa disamaratakan. Misalnya saja di barat Indonesia yang sudah mapan infrastrukturnya karena memang basis industri berada di barat dan pengguna rumah yang pakai pun lumayan banyak.

    Tapi permasalahannya, lapangan minyak dan gas bumi (migas) sudah berusia tua sehingga membutuhkan perawatan yang lebih mahal. Artinya begitu sampai ke pengguna akan tercermin harganya akan lebih mahal.

    "Bahkan sudah di atas ketetapan Perpres yang mengamanatkan USD6 per MMBTU, sementara di kepala sumur (hulu) ada yang USD8-USD9 per MMBTU. Jadi kalau Pak Presiden minta di bawah itu enggak akan ketemu sebenarnya," jelas Komaidi.

    Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengusulkan tiga cara untuk menekan harga gas industri yang dinilai masih tinggi. Rata-rata harga gas industri mencapai USD8-USD9 per MMBTU. Salah satu opsinya yakni membebaskan impor gas bagi industri.

    Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang yang mengusulkan untuk membuka keran impor tersebut mengatakan ada beberapa negara yang mau menjual gas ke Indonesia.

    "Apabila importasi gas dibuka itu kami dengar ada beberapa negara yangg siap untuk menjual gas ke pelabuhan Indonesia USD3,5 sampai USD4 per MMBTU," kata Agus.

    Sebanyak 84 industri saat ini terdampak langsung dari harga gas yang masih tinggi. Idealnya, harga gas bisa sesuai atau lebih rendah dari Perpres Nomor 40/2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi sebesar USD6 per MMBTU.
     
    "Ini perlu dicatat bahwa perusahaan yang diberikan tugas untuk melakukan importasi gas itu hanya untuk mensuplai industri yang membutuhkan gas sehingga industri tersebut bisa mendapatkan harga gas yang sesuai yang bisa mendorong daya saing yang tinggi bagi industri itu sendiri," ucap Agus.


    (SAW)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id