Kebocoran Gas, Jadwal Produksi Proyek YY Berpotensi Mundur

    Suci Sedya Utami - 19 Juli 2019 06:01 WIB
    Kebocoran Gas, Jadwal Produksi Proyek YY Berpotensi Mundur
    Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati (Foto: Medcom.id/Husen Miftahudin)
    Jakarta: PT Pertamina (Persero) memastikan operasional di Blok Onshore North West Java (ONWJ) tidak terganggu secara signifikan dengan adanya insiden kebocoran di salah satu sumur proyek YY di anjungan YYY. Namun tidak ditampik, ada kemungkinan jadwal onstream di proyek tersebut mundur.

    Walau demikian, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menegaskan proyek ini masih tetap beroperasi. Nicke menambahkan bagi Pertamina yang paling penting yakni melakukan langkah-langkah untuk menjamin keselamatan pegawai serta mencegah dampak pada lingkungan.

    "Enggak (terganggu) masih beroperasi. Ya mungkin (mundur) tapi kan produksinya enggak terlalu besar," kata Nicke, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 18 Juli 2019.

    Proyek dengan alokasi biaya USD85,4 juta ini memiliki potensi cadangan minyak mencapai empat juta barel atau Million Barrels of Oil (MMBO) dan gas sebesar 21,2 miliar standar kaki kubik atau Billions of Standard Cubic Feet (BSCF). Produksi ini direncanakan berproduksi pada akhir September 2019.

    Diharapkan nantinya Lapangan YY akan menyumbang tambahan produksi minyak sebesar 4.065 barel per hari atau Barrel Oil per Day (BOPD) dan gas bumi mencapai 25,5 juta kaki kubik per hari atau Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD).

    Produksi dari Lapangan YY akan digunakan seluruhnya untuk kepentingan dalam negeri sehingga menjadi pendorong roda perekonomian industri di sekitar wilayah kerja Pertamina Hulu Energy (PHE) ONWJ.

    Sebelumnya PHE menyatakan langsung mengaktifkan sinyal darurat untuk menanggulangi kebocoran gas yang terjadi pada Proyek YY yang terletak dua kilometer dari Pantai Utara, Karawang, Jawa Barat.

    Vice President Relation PHE Ifki Sukarya mengatakan kebocoran tersebut terjadi pada sumur reaktivasi YYA-1 yang dioperasikan oleh anak usaha PHE yakni PHE Offshore North West Jawa (ONWJ). Dia bilang sumur tersebut perlu dilakukan penutupan sebab muncul gelembung.

    "PHE ONWJ telah mengaktifkan incident management team untuk menanggulangi kejadian tersebut," kata Ifki.

    Perusahaan juga telah mengevakuasi keselamatan para pekerja yang berada di anjungan dan menara pengeboran (rig), masyarakat dan lingkungan sekitar, dan memastikan isolasi serta pengamanan di sekitar lokasi kejadian. PHE juga sudah menyiapkan tujuh kapal yang bertugas melakukan pemantauan apabila terjadi kebocoran gas lebih besar atau terlihat adanya indikasi semburan minyak dari sumur.

    Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Migas Kementerian Djoko Siswanto mengatakan, timnya sejak Jumat lalu telah berada di sana. Djoko mengatakan risiko paling fatal akibat kebocoran tersebut yakni rig bisa tenggelam. Saat ini kemiringan rig baru delapan derajat.

    Terkait dampak kebocoran tersebut terhadap lingkungan, Djoko bilang, tidak terjadi sebab sudah ada upaya untuk mengantisipasi agar tidak ada semburan minyak dari sumur yang keluar (oil spill). "Belum sampai ke pesisir. Upaya pertama evakuasi orang, kedua lingkungan supaya minyak enggak menyebar ke mana-mana, kita tangkap dan kita bereskan," pungkas Djoko.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id