Realisasi Produksi Batu Bara Lebihi Target

    Suci Sedya Utami - 11 Desember 2019 17:43 WIB
    Realisasi Produksi Batu Bara Lebihi Target
    Batu bara indonesia. Foto : AFP.
    Jakarta: Ditjen Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat produksi batu bara hingga 9 Desember 2019 mencapai 502,6 juta ton. Realisasi tersebut tercapai 102,64 persen dari target produksi di tahun ini yang sebesar 489,7 juta ton.

    Kasubdit Pengawasan Usaha Operasi Produksi dan Pemasaran Batubara Ditjen Minerba Dodik Ariyanto mengatakan hingga akhir tahun prognosa produksi mencapai 600 juta ton. Dirinya mengatakan setidaknya ada beberapa faktor yang mempengaruhi peningkatan produksi.

    Pertama kapasitas produksi terpasang melebihi target pemerintah baik di Izin Usaha Pertambangan (IUP) pusat maupun daerah. Selain itu beberapa perusahaan mengajukan revisi rencana kegiatan dan anggaran biaya (RKAB), meski tidak semua yang mengajukan dipenuhi.

    Kemudian penurunan harga batu bara di level global membuat beberapa perusahaan mengusulkan kenaikan produksi untuk menutupi biaya produksi yang dikeluarkan karena harga yang relatif rendah. Faktor lainnya yakni karena batu bara menjadi salah satu sumber pendapatan negara dan daerah.

    "Kita masih perlu devisa hasil ekspor dan deerah masih perlu PAD (pendapatan asli daerah), maka tingkat produksi perusahaan-perusahaan pertambangan alami kenaikan," kata Dodik dalam Indonesia Mining Outlook 2020, di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Rabu, 11 Desember 2019.

    Dodik melanjutkan, kenaikan produksi yang signifikan harus dipastikan tidak menyalahi feasibility study atau studi kelayakan dan analisis dampak lingkungan (Amdal).

    "Kami pastikan ini masih sesuai dengan kapasitas di dalam amdal dan feasibility study," ujar Dodik.

    Lebih jauh terkait target produksi pada 2020, masih dalam tahap evaluasi agar produksi bisa optimal dengan mempertimbangkan rancangan umum energi nasional (RUEN) dan rancangan pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) yang menetapkan produksi 400 juta ton.

    Selain itu mempertimbangkan pasar domestik dan luar negeri (ekspor). Berdasarkan informasi, di dalam negeri membutuhkan pasokan sebesar 150 juta-155 juta ton dan untuk ekspor sebesar 420 juta ton.

    Kemudian mempertimbangkan investasi yang telah dilakukan perusahaan yang cukup besar, sehingga target tidak akan dibuat di bawah kapasitas investasi tersebut. Serta mempertimbangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

    "Kita akan tetapkan produksi yang optimal dengan harapan tidak terjadi oversupply dan dapat menjamin kestabilan dalam negeri," jelas Dodik.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id