Pertamina EP Minta Porsi Insentif EOR Diperbesar

    Suci Sedya Utami - 12 Maret 2019 18:56 WIB
    Pertamina EP Minta Porsi Insentif EOR Diperbesar
    Direktur Pengembangan Pertamina EP John H Simamora - - Foto: Medcom.id/ Suci Sedya Utami
    Jakarta: PT Pertamina EP menginginkan insentif untuk mendorong penggunaan teknologi enhanced oil recovery (EOR) dalam meningkatkan produksi minyak dan gas (migas) di Tanah Air diperbesar.

    Direktur Pengembangan Pertamina EP John H Simamora mengatakan EOR merupakan salah satu metode untuk meningkatkan produksi. Apalagi anak usaha PT Pertamina (Persero) ini menargetkan produksi migas sebesar 258 MBOEPD tahun ini. Terdiri atas produksi minyak 85 ribu BOPD dan gas 970 MMSCFD.

    “Biaya EOR itu sangat besar karena itu dilakukan di lapangan yang punya cadangan besar. Kami berharap ada insentif untuk pengerjaan EOR," kata John dalam diskusi Strategi dan Inovasi Pertamina EP Mendongkrak Produksi Migas di Hotel Oria, Jakarta Pusat, Selasa, 12 Maret 2019.

    Insentif yang dimaksud yakni, pembagian split atau porsi dalam skema bagi hasil gross split. John mencontohkan saat ini porsi insentif yang diberikan bagi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dan pemerintah yakni 40:60. 

    Sementara ia menginginkan agar porsi untuk mengguna atau kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) ditambah menjadi 45:55 atau 50:50. Menurut John apabila ingin menarik minat investor menggunakan EOR maka insentif harus diperbesar. Sebab kondisi saat ini tidak menarik bagi investor untuk menggenjot EOR.

    "Kalau bisa porsi ditambah. Kalau enggak begitu investor enggak gereget juga. Jadi insentif perlu digugah sedikit kalau ingin EOR jalan. Ini sebenarnya bukan untuk Pertamina saja tapi seluruh nasional," tutur John.

    Dalam kesempatan yang sama VP Enhanced Oil Recovery Pertamina EP Andi W Bachtiar menjelaskan, untuk meningkatkan produksi pihaknya menempuh berbagai cara, antara lain mempercepat pengembangan struktur temuan eksplorasi di struktur atau lapangan Jatiasri, Bambu Besar, dan Akasia Bagus. 

    Selain itu, memperketat pengendalian dan jaminan kualitas proyek-proyek pemboran, memperbanyak sumur outstep, memperkecil non productive time (NPT) pada operasi pemboran, dan proses pemboran dengan dogleg reamer, completion strategy, real time drilling monitoring.

    “Kami juga melakukan EOR untuk memperoleh minyak dengan menggunakan material atau fluida khusus yang tidak terdapat dalam reservoar," kata Andi.

    Umumnya, EOR diterapkan pada lapangan minyak yang telah lama beroperasi dengan tujuan meningkatkan produksi. Andi mengatakan EOR dibutuhkan untuk mendapatkan ultimate oil secara ekonomis dari reservoar minyak, setelah perolehan dengan metode primer konvensional dan metode sekunder dilakukan.  

    Pertamina EP terus berupaya dalam mendorong keberlanjutan proyek EOR yang terdiri dari surfaktan, polimer, dan CO2 flooding. Andi menekankan perlunya dukungan stakeholder utama yang positif, khususnya dari Kementerian ESDM dan SKK Migas. 

    “Pertamina EP telah memiliki research and technology center (RTC) dan telah membuat serta melengkapi laboratorium EOR dengan biaya sebesar USD5 juta,” tutur Andi.

    Andi mengakui tantangan dalam penerapan EOR di Pertamina EP adalah lapangan yang tersebar luas di seluruh Indonesia. Tidak ada perusahaan yang bergerak di bidang kimia dari hulu sampai dengan hilir khususnya chemical EOR. Selain itu perlu adanya peningkatan teknologi dan pengetahuan dalam bidang chemical EOR. 

    “Apalagi EOR menjadi bagian dari Program Rencana dan Aksi (Renaksi) Nawacita milik Presiden,” jelas dia.



    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id