Angin Segar Pengembangan Kilang Balikpapan

    Suci Sedya Utami - 27 Juli 2019 01:11 WIB
    Angin Segar Pengembangan Kilang Balikpapan
    Ilustrasi kilang minyak milik Pertamina. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)
    Jakarta: Kunjungan Putra Mahkota Uni Emirat Arab (UEA) Syekh Mohammed bin Zyed Al Nahyan ke Indonesia membawa angin segar bagi industri minyak dan gas (migas) nasional.

    Pasalnya dalam kunjungan tersebut dilakukan penandatanganan Comprehensive Strategic Framework (CSF) antara Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) untuk menjajaki pengembangan Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur.

    Kesepakatan antara Pertamina dengan ADNOC merupakan tindak lanjut dari hasil pertemuan bilateral Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dan Menteri Energi dan Industri UEA Suhail Mohamed Faraj Al Mazrouei yang dilakukan di Kantor Kementerian ESDM awal Juli lalu.

    Saat itu, salah satu potensi kerja sama yang menjadi pembahasan adalah di sektor hulu migas, terutama kerja sama dengan Pertamina dalam rangka meningkatkan produksi migas Indonesia.

    "Sesuai arahan Bapak Presiden menginginkan investasi dari Persatuan Emirat Arab khususnya dan Timur Tengah, adanya investasi yang besar tidak hanya dari sektor migas saja, tapi bisa juga dari sektor yang lain," kata Menteri Jonan saat pertemuan tersebut.

    Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi menyampaikan, melalui kesepakatan ini juga terbuka potensi kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak dan gas dari hulu ke hilir, baik di UEA, Indonesia serta internasional.

    "Dari pertemuan tersebut, tiga kerja sama diteken dengan total nilai investasi USD9,7 miliar atau sekitar Rp136 triliun. Salah satunya di sektor migas ini RDMP Balikpapan, Integrated Supply Chain (LPG dan Naphta), LPG Storage, dan lain-lain dengan investasi senilai USD1,3 miliar hingga USD2,5 miliar," ungkap Agung di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Jumat, 26 Juli 2019.

    Ada juga investasi di petrokimia, turunan migas, melalui kerja sama Mubadala Investement Company dengan PT Chandra Asri Petrochemincal untuk membangun pabrik petrokimia senilai hingga USD6 miliar. Melalui kerja sama ini diharapkan Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor petrokimia.

    Saat ini, Pertamina menjalankan kegiatan bisnis di bidang energi yang terintegrasi di Indonesia dan tengah mengembangkan bisnisnya di luar negeri. Pertamina tercatat memiliki enam kilang minyak dengan kapasitas terpasang satu juta barel per hari. Pertamina juga berencana menambah kapasitas kilang sebesar satu juta barel per hari melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) and Grass Root Refineries (GRR).

    Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, penjajakan kerja sama dengan ADNOC dapat mendukung upaya Pertamina dalam memastikan ketahanan dan ketersediaan energi di dalam negeri. Kolaborasi dengan ADNOC juga bisa mendukung upaya Pertamina berkiprah di kancah energi global.

    "Kerja sama dengan ADNOC akan menjadi tonggak penting bagi Pertamina," kata Nicke, Rabu lalu.

    Setelah penandatanganan, tim kerja dari kedua pihak akan mengadakan pertemuan selama beberapa bulan untuk mengevaluasi dan menyeleksi bidang-bidang utama untuk kolaborasi strategis di seluruh aset dan portofolio proyek kedua perusahaan. Diharapkan opsi kerja sama kolaborasi yang lebih spesifik akan disepakati untuk dieksekusi pada akhir 2019.

     



    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id