Produksi Batu Bara 2019 Tertinggi dalam Lima Tahun Terakhir

    Suci Sedya Utami - 10 Januari 2020 05:14 WIB
    Produksi Batu Bara 2019 Tertinggi dalam Lima Tahun Terakhir
    Batu Bara. Foto : AFP.
    Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi produksi batu bara sepanjang 2019 melebihi target dalam rencana kerja anggaran dan biaya (RKAB) pertambangan.

    Target produksi batu bara tahun lalu sebesar 489 juta ton. Sedangkan realisasinya mencapai 610 juta ton. Realisasi ini merupakan yang tertinggi dalam waktu lima tahun terakhir.

    Tingginya produksi tersebut dipengaruhi oleh peningkatan izin usaha pertambangnan (IUP) yang menjadi pengawasan pemerintah daerah. Ia bilang pemegang IUP yang meningkat ke tahap produksi kurang lebih mencapai seribuan.

    Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan untuk target di 2020 tidak akan jauh dari realisasi di 2019. Tahun ini produksi batu bara ditargetkan sebesar 550 juta ton. Arifin bilang ia tidak mau menargetkan terlalu tinggi lantaran demi menjaga harga.

    "Kita enggak ingin produksi dilakukan secara besar-besaran karena akan sebabkan harga jatuh dan bisa merugikan negara, karena pendapatannya akan menurun," kata Arifin di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Kamis, 9 Januari 2020.

    Di lokasi yang sama, Direktur Jenderal Minerba Bambang Ariyono mengatakan pihaknya akan mengawasi target produksi tersebut dengan beberapa program quick wins di antaranya melalui aplikasi Minerba Online Monitoring System (MOMS).

    Di sisi lain terkait kebijakan domestic market obligation (DMO) atau pemanfaatan pasokan untuk kebutuhan dalam negeri bagi komoditas batu bara juga terserap dengan baik. Bambang mengatakan hal ini tidak terlepas oleh perkembangan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang beroperasi dengan pesat sehingga membutuhkan pasokan batu bara.

    Selain itu, harga batu bara yang cenderung menurun juga membuat pelaku usaha pertambangan lebih memilih memasok untuk kebutuhan di dalam negeri. Harga batu bara saat ini bergerak di bawah USD70 per ton. Harga USD70 per ton merupakan patokan untuk DMO. Sementara jika pengusaha menjualnya ke luar maka mereka harus mengeluarkan biaya untuk ekspor.

    "Kalau harganya di atas USD70, dia lebih memilih ekspor. Jadi Alhamdulillah aman. Mudah-mudahan DMO akan meningkat sejalan dengan percepatan pembangunan pembangkit," tutur dia.

    Data Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM mencatat di 2019 ada tambahan kapasitas pembangkit sebesar 4.200 megawatt (MW) dari tahun lalu sebesar 64.900 MW menjadi 69.100 MW. Kenaikan kapasitas terpasang tersebut merupakan sumbangan dari masuknya 71 pembangkit yang beroperasi. Dari jumlah tersebut, 10 di antaranya merupakan pembangkit listrik tegana uap (PLTU) dengan kapasitas total 3.017 MW.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id