Geo Dipa Energi Raih PMN Rp700 Miliar untuk Proyek Geotermal

    Suci Sedya Utami - 18 September 2019 23:44 WIB
    Geo Dipa Energi Raih PMN Rp700 Miliar untuk Proyek Geotermal
    Ilustrasi. Foto : MI/Atet Dwi.
    Jakarta: Pemerintah mengalokasikan penanaman modal negara (PMN) bagi PT Geo Dipa Energi (Persero) sebesar Rp700 miliar di 2020. Suntikan modal tersebut untuk mendorong keuangan Geo Dipa dalam menggarap proyek panas bumi atau geotermal.

    Direktur Kekayaan Negara Dipisahkan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJK) Kementerian Keuangan Meirijal Nur menjelaskan Geo Dipa saat ini sedang berusaha bangkit untuk memperbaiki perusahaan dengan menggarap pengembangan wilayah kerja panas bumi (WKP) Dieng dan Patuha.

    Kedua WKP tersebut pada 2018 menghasilkan produk listrik sebesar 735 giga watt hour (GWh). Untuk meningkatkan produksi listrik melalui peningkatan kapasitas, perusahaan tengah menyiapkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Dieng 2 dan PLTP Patuha 2 dengan kapasitas masing-masing 55 megawatt (MW).

    Namun, kata Meirijal, untuk mengembangkan potensi dari dua WKP tersebut perlu investasi yang besar. Pengembangan panas bumi membutuhkan biaya yang mahal sejak dari kajian, ekplorasi pengeboran hingga menghasilkan energi listrik.

    Ia bilang sebenarnya Geo Dipa mendapatkan pinjaman dari Asian Development Bank (ADB) atau Bank Pembangunan Asia dengan estimasi sebesar USD375 juta-USD475 juta. Namun ADB mensyaratkan Geo Dipa punya porsi ekuitas tertentu sehingga pinjaman tersebut dapat direaliasaikan.

    "Oleh sebab itu pemerintah putuskan tambahan PMN ke Geo Dipa di 2020 untuk pengembangan dua proyek tersebut," kata Meirijal di kantor DJKN, Jakarta Pusat, Rabu, 18 September 2019.

    Dalam kesempatan yang sama, Direktur Geo Dipa Energi Riki Firmandha Ibrahim mengatakan PMN yang diberikan sangat berharga bagi perseroan yntuk modal membangun 2x55 MW. Riki mengatakan Geo Dipa baru mencatatkan keuntungan di 2016 sejak beroperasi dari 2002.

    "Geo Dipa sudah mulai untung, namun karena investasinya USD350 juta lebih untuk dua pembangkit, kita enggak punya uang. USD700 juta sangat berarti untuk mengembangkan pembangkit," kata Riki.

    Ia bilang keuangan perusahaan akan lebih settle apabila kapasitas pembangkit yang dihasilkan mencapai 300 MW. Riki mengatakan jika kapasitas tersebut tercapai, maka perseroan tidak membutuhkan lagi PMN.

    Adapun untuk dua proyek tersebut ditargetkan beroperasi secara komersial (commercial operation date/COD) pada 2023. Dia mengatakan pengeboran akan dilakukan pada Juli 2020. Saat ini, kata Riki, prosesnya sudah dalam tahap tender pengadaan alat yang akan dipergunakan di 2020 .

    "Hasilnya tahun depan kita bor, setelah keluar uap akan kita alirkan ke turbin, 2023 selesai dan menghasilkan 350 GWh per tahun," jelas dia.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id