Arcandra Resmikan Smelter Berkapasitas 230 Ribu Ton

    16 Juni 2019 17:09 WIB
    Arcandra Resmikan <i>Smelter</i> Berkapasitas 230 Ribu Ton
    Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. Medcom/ Annisa Ayu Artanti.
    Jakarta : Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar bersama Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Syafruddin melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) fasilitas pemurnian (smelter) feronikel berkapasitas 230 ribu ton dari PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) di Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

    Smelter PT CNI ini dapat mengolah nikel dengan kapasitas input bijih (ore) lima juta ton dan output dalam bentuk feronikel sebanyak 230 ribu ton dengan kadar nikel 22 persen hingga 24 persen per tahun, demikian data dari Kementerian ESDM yang diterima Antata di Jakarta, Minggu, 16 Juni 2019.

    Smelter yang dibangun mengadopsi teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF). Kebutuhan listrik untuk operasional smelter diperkirakan mencapai 350 MW. Dalam sambutannya Arcandra menyebutkan bahwa sumber daya alam memegang peran penting dalam mendorong pembangunan nasional.

    Meski begitu, ia menyatakan prinsip pemanfaatannya tetap berpedoman pada Pasal 33 UUD 1945, yakni dikuasai oleh negara dan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

    Interpretasi dari dikuasai oleh negara, lanjut Arcandra, adalah kekayaan alam dikelola oleh putra-puteri terbaik Indonesia, menggunakan teknologi yang dikembangkan bangsa Indonesia, pendanaan bersumber dari kemampuan dalam negeri, dan hasil pengelolaan dioptimalkan untuk kebutuhan di dalam negeri.

    "Sesuai dengan amanat undang-undang, kita ingin agar nikel ini dapat kita olah di dalam negeri dan memperpanjang rantai pengolahannya sehingga bisa menghasilkan nilai tambah," kata Arcandra.

    Pembangunan fasilitas smelter itu merupakan implementasi kebijakan peningkatan nilai tambah mineral di dalam negeri sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

    Groundbreaking smelter ini juga menjadi komitmen pemerintah untuk terus mendorong pelaku usaha pertambangan dalam mendukung upaya percepatan hilirisasi di sektor pertambangan.

    "Inilah yang kita inginkan agar bisa menghasilkan efek nilai tambah yang lebih besar dari sekedar menjual raw material," tutur Arcandra.

    Smelter ini ditargetkan akan mulai beroperasi pada akhir 2021.

    "Pembangunan infrastruktur utama dan pendukung smelter ferronikel ini ditargetkan selesai pada Desember 2021 dengan total nilai investasi sebesar Rp14,4 triliun," ujar Direktur Utama PT CNI Derian Sakmiwata pada kesempatan yang sama.

    Pembangunan smelter ini  akan terus diawasi oleh Kementerian ESDM dengan melakukan pengawasan kemajuan pembangunan secara berkala setiap enam bulan dan juga ketersediaan cadangan bijih nikel untuk operasional fasilitas pemurnian. Dengan dibangunnya fasilitas pemurnian di provinsi Sulawesi Tenggara ini, diharapkannya dapat menjadi roda penggerak ekonomi daerah khususnya di Kabupaten Kolaka dan sekitarnya.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id