Empat Smelter Nikel Terbesar Guna Percepat Kendaraan Listrik

    Suci Sedya Utami - 03 September 2019 05:24 WIB
    Empat <i>Smelter</i> Nikel Terbesar Guna Percepat Kendaraan Listrik
    Smelter. Dok : AFP.
    Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan salah satu alasan mempercepat larangan ekspor bijih nikel yakni agar bisa diolah di smelter dalam negeri untuk menjadi baterai dalam rangka mendukung percepatan pengembangan mobil listrik.

    "Intinya nilel tersebut nantinya dapat menhasilkan komponen yang berguna untuk membangun baterai dalam rangka untuk percepatanlp pengembangan mobil listrik," kata Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Bambang Gatot Ariyono di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Senin, 2 September 2019.

    Bambang mengatakan setidaknya ada empat smelter yang menggunakan teknologi hydrometalurgi guna mendorong percepatan  industri mobil listrik di dalam negeri. Pertama, smelter milik PT Huayue Nickle Cobalt yang terletak di IMIP Industrial Park, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

    Smelter dengan nilai investasi USD1,28 miliar ini memiliki kapasitas pengolahan sebesar 11 juta ton bijih nikel per tahun. Adapun kapasitas yang dihasilkan berupa nikel sebesar 60 ribu ton dan cobalt sebesar 7.800 ton.

    Kedua smelter milik PT QMB New Energy Material yang terletak di IMIP Industrial Park, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Investasi yang dibutuhkan untuk membangun smelter ini mencaoai USD998,47 juta.
    Smelter ini mampu mengolah lima juta ton bijih nikel per tahun. Dengan kapasitas yang dihasilkan berupa 50 ribu ton nikel per tahun dan 4.000 ton cobalt.

    Ketiga smelter milik PT Halmahera Persada Lygend dengan salah satu pemilik sagam dari Harita Group (PT Trimegah Bangun Persada). Smelter ini membutuhkan investasi sebesar USD 10,61 miliar.

    Smelter ini memiliki kapasitas pengolahan mencapau 8,3 juta wet ton bijih nikel per tahun. Serta memililiki kapasitas yang dihasilkan berupa mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel sulfat dan cobalt sulfat sebesar 278.534 ton.

    Keempat smelter milik PT Smelter Nikel Indonesia yang memiliki kapasitas pengolahan sebesar 2,4 juta ton bijih nikel per tahun serta kapasitas yang dihasilkan berupa MHP, nikel sulfat dan cobalt sulfat sebesar 76.500 ton.

    Total kebutuhan bijih nikel kadar rendah pada 2021 akan mencapai 27 juta ton per tahun.
    Adapun jumlah smelter yang memiliki izin pembangunan sebesar 36 pabrik. Dari tersebut 11 di antaranya telah beroperasi dan 25 sisanya masih dalam progres pembangunan.

    Lebih jauh Bambang menambahkan dari 11 smelter tersebut kapasitas bijik nikel yang dibutuhkan untuk diolah sebesar 24,1 juta ton. Sedangkan untuk keseluruhan smelter kapasitas bijih nikel yang dibutuhkan mencapai 81 juta ton pada 2022.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id