4 Penyebab Indonesia Sulit Capai Target Energi Terbarukan

    Nia Deviyana - 17 Juli 2019 12:35 WIB
    4 Penyebab Indonesia Sulit Capai Target Energi Terbarukan
    Ilustrasi (MI/Bagus Suryo)
    Jakarta: Laporan bertajuk "Indonesia's Energi Transition: A Case for Action" yang ditulis perusahaan konsultan manajemen global A.T Kearney menunjukkan ada empat faktor yang menghambat Indonesia dalam penerapan Energi Baru Terbarukan (EBT) pada pembangkit listrik Indonesia.

    Adapun keempat faktor yang dimaksud yakni adanya kendala teknologi, kebijakan yang tidak menguntungkan dan peraturan yang tak pasti, rendahnya ketersediaan pembiayaan swasta, serta potensi konflik kepentingan peran PLN. Hal terpentingnya adalah pemerintah perlu menerapkan kebijakan dan peraturan yang pasti agar EBT menarik minat investasi swasta.

    "Sebagai permulaan, perlu adanya penilaian kembali mengenai kelayakan batas tarif yang disepakati sebelumnya berdasarkan peraturan ESDM 12/2017, untuk memastikan bahwa pengembangan energi terbarukan menarik minat PLN dan juga para investor," ujar Alessandro Gazzi, rekan A.T Kearney melalui keterangan resminya, Rabu, 17 Juli 2019.

    Selain itu, menurut Gazzi, penting juga untuk menyeimbangkan kembali subsidi bahan bakar fosil terhadap energi terbarukan. "Karena akan menurunkan harga daya yang dihasilkan oleh teknologi energi terbarukan, sehingga mengarah ke lebih besarnya pemanfaatan yang nantinya akan membantu mengurangi biaya selanjutnya," paparnya.

    Selain itu, pemerintah harus meninjau kembali beberapa persyaratan konten lokal yang ketat dan menerapkan proses persetujuan yang lebih transparan dan efisien. Hal ini sering diperlukan saat pembebasan lahan dan perizinan.

    "Persyaratan konten lokal saat ini sering menghambat terciptanya lingkungan yang layak untuk pengembangan energi terbarukan. Persyaratan tersebut dapat dipertimbangkan setelah pasar energi terbarukan mencapai tingkat kesiapan dan ketika ada insentif investasi yang substansial," tuturnya.

    Kebijakan Energi Nasional Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia menetapkan target sebesar 23 persen hasil energi negara berasal dari EBT pada 2025. Selain itu, Indonesia telah sepakat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada tahun 2030.

    Namun, hingga 2018, EBT baru mampu menyumbang 12 persen dari total listrik yang dihasilkan. Perkiraan pasar, jika ditinjau berdasarkan proyek-proyek yang saat ini sedang dalam pengawasan, menunjukan bahwa penggunaan energi terbarukan kemungkinan akan tetap sebesar 12 persen pada 2025, yang artinya tidak mencapai target.

    Namun, Gazzi menilai masih ada peluang bagi Indonesia untuk memperbaiki hambatan tersebut. Dengan syarat, ada upaya bersama antara pemerintah, ESDM, dan PLN

    "Diperlukan intervensi pemerintah, mulai dari memberi insentif kepada PLN untuk fokus pada pengembangan energi terbarukan dan mengamanatkan penggunaan teknologi berbiaya rendah untuk proyek-proyek off-grid," pungkas dia.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id