Pengembangan EBT Jadi Solusi Defisit Perdagangan Migas

    Annisa ayu artanti - 10 Juli 2019 17:48 WIB
    Pengembangan EBT Jadi Solusi Defisit Perdagangan Migas
    Illustrasi. Dok : AFP.
    Jakarta: Pengembangan energi baru (EBT) dan terbarukan dinilai sebagai solusi tepat mengatasi lebarnya defisit perdagangan sektor minyak dan gas.

    Anggota Komisi VII DPR RI, Ramson Siagian mengatakan kegiatan ekspor saat ini belum bisa menutupi impor migas yang terus meningkat karena naiknya konsumsi nasional. Oleh karenanya, solusi strategis yang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan pengembangan ebt.

    "Ekspor kita tidak terlalu membanggakan. Jadi seharusnya bisa mengembangkan inovasi EBT yang bisa diproduksi di dalam negeri. Jadi tidak mengimpor," kata Ramson kepada Medcom.id, di Jakarta, Rabu, 10 Juli 2019.

    Dia menyebutkan hal ini seperti program B20 yang memberikan nilai tambah untuk industri minyak sawit. Menurutnya, program tersebut bukan menjadi penyelamat pengusaha perkebunan kelapa sawit dan pabrik sawit. Program tersebut harus menjadi program jangka panjang supaya mengurangi impor minyak.

    "Program tersebut harus jadi program konsisten. Sehingga jangka panjang bisa mengurangi impor minyak," ucap dia.

    Selain mengoptimalkan EBT, lanjutnya, penggunaan gas dalam negeri juga harus dimaksimalkan. Saat ini produksi gas dinilai cukup memenuhi kebutuhan nasional. Hanya saja, infrastruktur gas hingga kini belum siap.

    "Lalu, mengoptimalkan penggunaan gas. Sebenarnya kalau gas produksi dan demand dalam neger masih bisa terpenuhi. Kalau minyak kita sudah impor, demand lebih tinggi," jelas dia.

    Solusi ini, menurutnya, menjadi PR Menteri Energi Sumber Daya Migas Ignasius Jonan untuk direalisasikan supaya defisit perdagangan migas berkurang. Sementara untuk Menteri BUMN Rini Soemarno, Ramson menambahkan, supaya dapat mensinergikan perusahaan-perusahaan BUMN untuk mendukung program EBT.

    "Itu yang bertanggung jawab menteri ESDM. Kalau menteri BUMN, bagaimana mensinergikan agar BUMN berpartisipasi mengembangkan EBT," tukas dia.

    Sebelumnya, Presiden Joko Widodo memperingatkan menteri Kabinet Kerja meningkatkan kinerja di sektor ekonomi. Pasalnya, defisit neraca perdagangan Indonesia dari Januari hingga Mei 2019 mencapai USD2,14 miliar.
     
    Secara khusus, pesan tersebut ditujukan Jokowi kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan.
     
    "Januari-Mei ada defisit USD2,14 miliar. Coba dicermati angka ini dari mana, kenapa impor sangat tinggi. Migas juga naiknya besar sekali. Hati-hati di migas Pak Menteri ESDM, Bu Menteri BUMN, karena paling banyak ada di situ," kata Jokowi dalam sidang kabinet paripurna di Istana Kepresidenan Bogor, Senin, 8 Juli 2019.




    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id