Pembangkit Cirebon Power Implementasi Pengelolaan Lingkungan Hidup

    Husen Miftahudin - 09 Januari 2020 01:31 WIB
    Pembangkit Cirebon Power Implementasi Pengelolaan Lingkungan Hidup
    President Director Cirebon Power Hishiro Takeuchi menerima penghargaan Proper Hijau dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya di Istana Wakil Presiden. Dok PT Cirebon Power.
    Jakarta: Konsorsium pembangkit listrik Cirebon Power mengimplementasi pengelolaan lingkungan dalam menerapkan teknologi ramah lingkungan. Langkah tersebut bahkan membuat Cirebon Power meraih predikat Proper Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). 

    Proper Hijau merupakan penilaian terhadap kinerja perusahaan dalam mengelola lingkungan yang baik. Ini merupakan penghargaan di bidang lingkungan yang pertama di tahun ini setelah memperoleh dua penghargaan lingkungan pada tahun lalu. 

    Predikat Proper (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup) Hijau diberikan untuk pembangkit unit pertama Cirebon Power berkapasitas 660 MW. Pembangkit ini beroperasi sejak 27 Juli 2012 dan merupakan salah satu dari dua pembangkit yang pertama kali menerapkan teknologi ramah lingkungan super critical (SC) boiler di Indonesia. 

    Penghargaan Proper Hijau diserahkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar kepada Presiden Direktur Cirebon Power Hisahiro Takeuchi dan disaksikan Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Penyerahan tersebut dilakukan di Istana Wakil Presiden. 

    Takeuchi mengatakan raihan Proper Hijau oleh Cirebon Power lantaran perusahaan melakukan penurunan beban pencemar air atau Total Suspended Solid (TSS) secara signifikan dengan mengkonversi rezim All Volatile Treatment (AVT) menjadi Oxigen Treatment (OT) pada WTP. 

    "Hal ini secara linear menurunkan jumlah limbah B3 yang dihasilkan dan meningkatkan konservasi air. Modifikasi ukuran filter pada vibrating screen cukup efektif dalam menyeleksi ukuran batu bara sesuai spesifikasi boiler sehingga menggantikan penggunaan crusher yang kebutuhan energinya cukup besar," ujar Takeuchi dalam keterangan tertulis, Rabu, 8 Januari 2020. 

    Selain itu, sambungnya, Cirebon Power secara rutin menjalankan sejumlah program lingkungan yang dampaknya dapat langsung dirasakan masyarakat sekitar pembangkit. Di antaranya ialah bank bibit, penanaman mangrove, dan membangun Taman Terbuka Hijau. 

    Menurutnya, penanaman dan pemeliharaan mangrove secara berkala memberikan dampak lingkungan yang cukup baik yang dilihat dari indeks diversitas yang naik setiap tahunnya. Hingga 2019, penanaman mangrove setidaknya dilakukan di areal seluas 13,5 hektare. 

    "Kegiatan ini selain berhasil mengkonservasi energi juga menurunkan emisi Gas Rumah Kaca dalam rangka menangkis dampak perubahan iklim," sambung Takeuchi. 

    Cirebon Power merupakan pelopor energi batu bara bersih di Indonesia. Perusahaan patungan antara Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan ini berkomitmen terhadap green sustainability. Emisi pembangkit Cirebon Power jauh di bawah ambang batas pemerintah.

    "Kami juga berhasil menekan gas rumah kaca selalu di bawah 1.00 kg CO2 eq/KWh yang ditentukan sebagai nilai optimal dalam industri pembangkitan listrik," sebut Takeuchi.

    Dalam menjalankan green sustainability, Cirebon Power melibatkan masyarakat sekitar pembangkit." Pemberdayaan masyarakat tak hanya tanggung jawab sosial, namun upaya untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat sekitar," tutup dia. 



    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id