KEIN Dorong Ketersediaan Listrik via PLTN

    Antara - 27 September 2019 14:04 WIB
    KEIN Dorong Ketersediaan Listrik via PLTN
    Ilustrasi. FOTO: MI/SUSANTO
    Jakarta: Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Republik Indonesia (RI) terus berupaya mendorong peningkatan ketersediaan listrik di Tanah Air. Salah satu yang dilakukan adalah melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Berdasarkan data dan fakta, ketersediaan energi listrik yang cukup menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi.

    "Sebuah negara bisa masuk kategori negara maju karena mampu memanfaatkan perusahaan energinya untuk memenuhi kebutuhan energi dalam jumlah yang mumpuni," kata Ketua Kelompok Kerja Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) KEIN Zulnahar Usman, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Jumat, 27 September 2019.

    Sebaliknya, menurut Zulnahar, ketidakstabilan pasokan energi listrik dapat berdampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi, karena listrik merupakan penentu pertumbuhan ekonomi dan industri. Mahalnya harga energi listrik di Tanah Air menjadi salah satu faktor yang menyebabkan keengganan masuknya investor manufaktur ke Indonesia.

    Selain itu, pembangunan PLTN sangat mendukung program pemerintah dalam mengembangkan hilirisasi mineral seperti tembaga, bauksit dan nikel, yang memelukan energi listrik besar dan stabil.

    Ia menjelaskan, penetapan Pulau Kalimantan sebagai ibu kota negara menggantikan Pulau Jawa menjadi fokus utama untuk menjamin pasokan listrik yang kuat dan ketersediaan energi yang sangat besar untuk mengejar pertumbuhan ekonomi dan industri.

    Kalimantan Barat telah siap bekerja sama dengan pihak manapun untuk pembangunan infrastruktur PLTN tersebut, termasuk pembangunan smelter aluminium yang memerlukan energi sebesar 1.8 GW.

    Sementara itu, Tumiran, akademisi Universitas Gadjah Mada mengatakan PP Nomor 17 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional serta matrik Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) telah mengamanatkan agar Indonesia secara bertahap mengurangi penggunaan energi fosil dan disubsitusi dengan energi batu terbarukan.

    Yakni, bauran energi baru terbarukan (EBT) menjadi 23 persen pada 2025 dan 31 persen pada 2031. "Kapasitas geothermal dan hydro yang terbatas dan lokasi ketersediannya tidak merata untuk seluruh Indonesia, maka pilihan PLTN menjadi opsi yang tidak dapat dihindarkan," pungkas Tumiran.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id