Harga Minyak Mentah Rebound

    Antara - 12 Februari 2020 08:13 WIB
    Harga Minyak Mentah <i>Rebound</i>
    Ilustrasi. Foto: AFP.
    New York: Harga minyak rebound sekitar satu persen dari posisi terendah dalam 13 bulan pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Jumlah kasus virus korona baru melambat di Tiongkok, meredakan beberapa kekhawatiran atas potensi kehancuran permintaan minyak yang berkepanjangan.

    Korban tewas melampaui 1.000 pada Selasa, meskipun jumlah kasus baru yang dikonfirmasi turun. Epidemi ini mungkin sudah berakhir pada April, kata penasihat medis utama pemerintah Tiongkok tentang wabah tersebut.

    Melansir Antara, Rabu, 12 Februari 2020, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April ditutup ke USD54,01 per barel. Angka ini naik USD0,74 atau 1,4 persen, setelah jatuh ke level terendah pada Senin, sejak Januari tahun lalu di USD53,11.

    Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret naik USD0,37 atau 0,8 persen menjadi USD49,94 per barel.

    "Pasar yang sedang mencoba ke posisi terbawah, menjadi optimistis dan terlihat melampaui (kekhawatiran) virus," kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group di Chicago.

    Investor tetap waspada bahwa permintaan minyak Tiongkok dapat memberikan pukulan lebih lanjut jika virus korona tidak dapat ditahan dan jika Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) serta sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC, gagal menyepakati langkah-langkah lebih lanjut untuk mendukung harga.

    "Kurangnya tindakan terkoordinasi oleh OPEC+ berarti bahwa kekhawatiran kelebihan pasokan kemungkinan akan tetap berada di atas angin," kata analis Commerzbank, Eugen Weinberg.

    Virus korona baru telah mengurangi permintaan konsumen minyak terbesar kedua di dunia. Perusahaan penyulingan negara Tiongkok berencana untuk memotong sebanyak 940 ribu barel per hari (bph) --hampir satu persen dari permintaan dunia-- dari tingkat pemrosesan minyak mentah mereka pada Februari.

    Badan Informasi Energi AS memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun ini sebesar 310 ribu barel per hari setelah wabah virus korona.

    Minyak juga mendapat dorongan dari reli di pasar ekuitas dunia, yang melanjutkan kenaikan mereka ke rekor tertinggi pada Selasa (11/2) dengan harapan virus telah mencapai puncaknya.

    OPEC dan sekutu termasuk Rusia menahan produksi sebesar 1,7 juta barel per hari pada 2020 untuk mendukung pasar dan telah mempertimbangkan pembatasan lebih lanjut.

    Panel penasehat OPEC+ mengusulkan pengurangan tambahan 600 ribu barel per hari minggu lalu, tetapi Rusia telah menunda memberikan sikap resminya, membuat frustasi beberapa anggota OPEC.

    Harga minyak memangkas keuntungan dalam perdagangan pasca-penyelesaian setelah data dari kelompok industri American Petroleum Institute (API) menunjukkan peningkatan yang lebih besar dari perkiraan dalam stok minyak mentah AS.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id