Transisi Blok Rokan Telat, Komisi VII Siap Panggil Chevron-Pertamina

    Suci Sedya Utami - 12 Desember 2019 10:36 WIB
    Transisi Blok Rokan Telat, Komisi VII Siap Panggil Chevron-Pertamina
    Ilustrasi kilang minyak Pertamina. Foto: dok MI/Susanto.
    Jakarta: Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suprawoto menilai transisi pengelolaan di Blok Rokan terlambat. Seharusnya transisi dilakukan lima tahun sebelum kontrak pengelola existing habis dan digantikan oleh kontraktor lain.

    Sayangnya hingga menjelang akhir kontrak pengelolaan PT Chevron Pasific Indonesia (CPI) di blok tersebut pada 2021, pengelola baru blok tersebut yakni PT Pertamina (Persero) pun kesulitan untuk masuk sebagai upaya transisi. Sugeng pun paham Chevron sebagai perusahaan besar tidak mudah untuk mengobral data.

    "Harusnya lima tahun sebelumnya," kata Sugeng di Jakarta, Rabu, 11 Desember 2019.

    Sugeng berpendapat dengan keterlambatan transisi dikhawatirkan nasib Blok Rokan sama seperti Blok Mahakam, akan terjadi penurunan produksi. Dia bilang dengan transisi sebetulnya penurunan produksi bisa dicegah karena aktivitas eksplorasi tetap berjalan dan dilakukan lebih awal oleh kontraktor anyar. Apalagi dirinya paham benar jika kontraktor yang akan habis kontraknya memiliki kecenderungan untuk tidak melakukan eksplorasi.

    "Operator kalau mau habis kontrak (mikirnya) kenapa harus eksplorasi," ujar dia.

    Lebih jauh politikus Partai NasDem ini mengatakan akan menjadwalkan untuk memanggil Chevron dan Pertamina untuk mengetahui lebih detail progres transisi alihkelola Blok Rokan. Dirinya menegaskan Komisi VII akan memprioritaskan pembahasan transisi ini demi menjaga produksi.

    "Akan segera kita panggil akhir tahun ini. Ada skala prioritas untuk ini," jelas dia.

    Komisi VII DPR RI sebelumnya mendesak PT Pertamina (Persero) untuk mempercepat proses alih kelola Blok Rokan dari PT Chevron Pacific Indonesia. Kontrak Chevron di blok tersebut sedianya akan berakhir pada 2021.

    Ketua Komisi VII periode lalu Gus Irawan mengatakan percepatan dibutuhkan untuk menjaga agar produksi di blok tersebut tidak turun. Pasalnya berkaca dari aloh kelola Blok Mahakam dari Total ke Pertamina yang terlambat membuat produksi di blok tersebut anjlok.

    "Poinnya Mahakam jangan sampai terulang. Jangan kita tunggu 2021. Semua persiapan harus sudah segera, kita pastikan smooth perpindahannya," kata Gus Irawan September lalu.

    Sementara itu Direktur Hulu Pertamina Dharmawan Samsu mengatakan pihaknya secara intens mengadakan pertemuan dengan pihak Chevron dalam rangka proses transisi. Pertamina kata dia sudah memiliki sebagian data subsurface blok Rokan.

    "Kami sudah bertemu dengan rutin dan persiapan data tapi memang tidak bisa sekaligus. Sudah sebagian diserahkan. Ada 78 sumur, 13 sumur udah divalidasi subsurface-nya dan akan begerak ke angka 78 sumur," kata Dharmawan.

    Namun demikian, Pertamina tetap harus menghormati kontrak yang dimiliki oleh Chevron. Karena itu, dalam investasi Pertamina di sana nanti tetap akan dieksekusi oleh Chevron dengan keterlibatan Pertamina.

    Pertamina sudah mengidentifikasi 7-8 sumur bisa dibor tahun depan. Itu adalaj bagian dari 13 sumur yang sudah dikaji bersama dengan Chevron.

    "Yang mengeksekusi tetap mereka (Chevron). Persis seperti di Mahakam. Tapi kalau di Mahakam kan sudah terakhir sudah lewat, ini lebih cepat. Pengadaan melalui sistem yang ada harus melalui lewat SKK Migas tetap. Chevron harus ke SKK Migas," tegas Dharmawan.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id