Pemerintah Diminta Tingkatkan Lifting Minyak di 2020

    Suci Sedya Utami - 29 Agustus 2019 10:35 WIB
    Pemerintah Diminta Tingkatkan <i>Lifting</i> Minyak di 2020
    Menteri ESDM Ignasius Jonan (Foto: Kementerian ESDM)
    Jakarta: Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) meminta pemerintah untuk menggenjot target produksi siap jual (lifting) minyak bumi nasional pada 2020 lebih tinggi dari yang diajukan dalam nota keuangan sebesar 734 ribu barel per hari (bph).

    Dalam rapat kerja antara Komisi VII DPR RI dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, akhirnya disepakati kenaikan lifting sebesar 21 ribu bph sehingga menjadi 755 ribu bph. Sedangkan Jonan menjelaskan target yang diajukan dalam nota keuangan dibuat dengan melihat proyeksi lifting hingga akhir 2019 sebesar 750 ribu bph.

    Artinya jika lifting minyak diminta digenjot lebih dari 755 ribu bph pada 2020 akan cukup sulit. Jonan mengatakan penentuan target lifting minyak selalu mengambil batas maksimal dari perkiraan berdasarkan kondisi riil. Menurut dia target lifting minyak yang ditetapkan harus realistis dapat dicapai dengan usaha keras.

    "Kalau exceeding itu (755 ribu bph), kita sudah tahu kemungkinan sulit sekali, kecuali ada hal-hal luar biasa. Seperti diketahui, proses eksplorasi dan workover itu lebih dari masa 12 bulan. Jadi saran saya produksi 755 ribu bph, ini sudah lumayan naik 21 ribu bph,” kata Jonan, di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta Pusat, Rabu, 28 Agustus 2019.

    Di kesempatan yang sama, Kepala Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto menjelaskan, usai sempat meningkat lima persen di 2016, lifting minyak turun sekitar tiga hingga empat persen per tahunnya pada 2017-2019. Rincinya, laju penurunan produksi tercatat 3,1 persen pada 2017, lalu 3,3 persen di 2018, dan 3,1 persen di tahun ini.

    Dia menjelaskan tarrget lifting minyak 734 ribu bph pada tahun depan dibuat dengan asumsi penurunan produksi 2,7 persen. Dwi mengatakan target 734 ribu bph itu bahkan sudah jauh lebih tinggi dari usulan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) sebesar 672 ribu bph.

    "Kami dorong untuk menjadi 734 ribu bph. Jadi masih ada selisih 68 ribu bph yang menjadi pekerjaan rumah kami," tutur dia, seraya menambahkan pihaknya belum dapat merinci program-program yang akan dikerjakan untuk mengejar kenaikan target menjadi 755 ribu bph.

    Namun secara umum, peningkatan produksi biasanya dikerjakan dengan menambah pengeboran sumur, kegiatan sumur kerja ulang (workover), dan investasi. Dia bilang peningkatan investasi ini diperlukan agar kegiatan produksi yang dikerjakan semakin banyak.

    "Ya kita harus dorong agar KKKS lebih agresif, meningkatkan investasinya,” tutur Dwi.

    Untuk memastikan target tercapai, pihaknya akan mendorong agar selisih lifting antara usulan dan target masuk dalam program kerja dan anggaran (work plan and budget/WP&B) KKKS.

    “Gap itu adalah PR kami dan akan kerja sama dan push KKKS agar programnya committed dengan target. Programnya apa saja yang bisa naikkan produksi, rencananya di WP&B yang akan kami approve di Desember ini, itu harus isi gap ini,” jelas Dwi.

    Selain itu, raker tersebut juga memutuskan target lifting gas sebesar 1,19 juta barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/boepd). Namun, Jonan memberikan catatan lifting gas sangat dipengaruhi dengan perkembangan harga gas dunia.

    “Tantangannya satu, kalau harga gas terlalu rendah bisa curtailment, dikurangi produksinya. Jadi kalau harga kurang bagus ya jualnya jangan banyak-banyak,” pungkas Jonan.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id