Serangan Ladang Minyak Saudi Tidak Pengaruhi Harga BBM

    Suci Sedya Utami - 17 September 2019 13:15 WIB
    Serangan Ladang Minyak Saudi Tidak Pengaruhi Harga BBM
    Ilustrasi. FOTO: Dok MI/PANCA SYURKANI
    Jakarta: Pemerintah berharap serangan drone ke kilang minyak milik Saudi Aramco tidak kembali terjadi karena bisa menyebabkan gejolak pada harga minyak dunia. Pasalnya jika harga minyak dunia makin tinggi tentu akan memengaruhi harga jual produk seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) baik yang subsidi maupun nonsubsidi.

    Sampai saat ini, pemerintah belum ada rencana untuk menyesuaikan harga terkait adanya kenaikan harga minyak dunia. Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto berharap harga minyak kembali normal.

    Selain itu, badan usaha berharap agar pergerakan harga minyak Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) seperti yang diperkirakan berada pada level USD63 hingga akhir tahun. "Belum-belum, (kenaikan minyak dunia) masih aman, mudah-mudahan kembali normal," kata Djoko, di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Selasa, 17 September 2019.

    Djoko mengatakan saat ini pergerakan harga minyak dunia masih dalam kondisi wajar. Untuk harga minyak jenis Brent, misalnya, pergerakannya saat ini di level USD67 per barel. Sementara untuk menghitung ICP, yakni harga minyak Brent dikurangi USD5.

    Artinya jika saat ini Brent berada di USD67 per barel maka ICP sebesar USD62 per barel. Besaran tersebut bahkan masih lebih rendah dibandingkan dengan yang diasumsikan oleh pemerintah di akhir tahun.

    Di sisi lain, terkait dampak serangan terhadap pasokan di dalam negeri yang berasal dari impor minyak Saudi Aramco, Djoko mengatakan, Indonesia mengimpor minyak dari perusahaan nasional Arab Saudi tersebut hanya 110 ribu barel per hari (bph). Sedangkan produksi Aramco mencapai 13,6 juta bph.

    Sementara yang terganggu akibat serangan drone sebesar 5,7 juta bph. Artinya masih ada 7,9 juta bph lagi produksi milik Aramco yang tidak terdampak. "Kita (impor) cuma 0,11 juta berel. Jadi seharusnya yang sudah komitmen dengan negara-negara lain yang dieskpor harusnya tidak ada masalah," tutur Djoko.

    Kendati demikian, untuk mengantisipasi pasokan PT Pertamina (Persero) telah menjalin komitmen untuk pembelian minyak mentah bagian kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Djoko bilang yang terbaru yakni komitmen untuk menyerap minyak mentah bagian ExxonMobile sebesar 650 ribu bph.

    "Untuk antisipasi kita juga beli crude KKKS yang ada di sini," pungkas dia.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id