Pertamina Rambah Bisnis Bangun Pabrik Baterai

    Suci Sedya Utami - 27 November 2019 19:26 WIB
    Pertamina Rambah Bisnis Bangun Pabrik Baterai
    Pertamina. Foto : MI/SAFIR MAKKI.
    Jakarta: PT Pertamina (Persero) turut serta dalam mengembangkan sayap bisnis untuk mendukung pengembangan kendaraan berbasis listrik yang ke depannya akan menjadi masa depan dunia.

    SVP Research and Technology Pertamina Dadi Sugiana mengatakan pihaknya telah bekerja sama dengan Mining Industry Indonesia (MIND ID) atau Inalum untuk mendirikan pabrik baterai. Baterai merupakan komponen atau bahan bakar utama yang nantinya akan menggerakkan kendaraan berbasis listrik.

    Apalagi kata Dadi, Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia. Nikel menjadi komponen utama dalam memproduksi baterai. Jika sumber daya alam yang ada tersebut tidak dimanfaatkan maka Indonesia akan makin tertinggal dalam dan hanya menjadi market dari produk jadi yang bahan bakunya berasal dari tanah air.

    "Kita punya engagement dengan Inalum untuk material baterai, kemudian kita kerja sama untuk membangun pabrik katoda dengan Inalum," kata Dadi di sela acara Pertamina Energy Forum, Hotel Raffles, Jakarta Selatan, Rabu, 27 November 2019.

    Pertamina sempat memprediksi besaran investasi pabrik baterai tersebut akan senilai USD80 juta per jalur. Pabrik yang dibangun akan menjadi kelanjutan proses produksi dari pabrikan di kawasan industri di Marowali yang menghasilkan chemicals sebagai bahan baku anoda atau katoda.

    Sementara itu, Vice President New & Renewable Energy Pertamina Kristyadi Winarto mengatakan pihaknya juga masih mencari mitra lain untuk mengembangkan pabrik baterai. Dia bilang mitra diharapkan merupakan pemain global yang memiliki pengalaman dalam bisnis baterai listrik sehingga mampu mendukung pemasaran produk dari Pertamina. Sejumlah calon mitra saat ini telah dikantongi namanya dengan target pengumuman yang terpilih pada Semester I Tahun 2020.

    Kristyadi mengakui seharusnya mitra Pertamina dalam mengembangan bisnis pabrik baterai listrik mampu keluar pada tahun ini. Namun, pihaknya masih butuh lebih banyak waktu untuk memilih mitra terbaik.

    Sebab jika hanya membangun pabrik, Pertamina memiliki kemampuan yang lebih dari cukup. Hanya saja, terkait pemasaran, Pertamina perlu didukung oleh mitra yang kuat sehingga produknya mampu bersaing di pasar global.

    Mitra tersebut diharapkan memiliki teknologi tinggi dan kemampuan dalam pengembangan bisnis baterai listrik dengan produknya yang memang telah diakui pasar. Apalagi, dinilai teknologi pembuatan baterai hanya bisa dilakukan beberapa negara saja.

    Selain itu, Pertamina juga melakukan studi pasar mengenai pemasaran baterai listrik. Pertamina ingin menghitung seberapa besar potensi penjualan baterai listrik tersebut.

    "Pertamina ingin masuk dalam bisnis baterai karena penggunaan fuel itu semakin berkurang jadi target kita mengurangi impor bahan bakar dan diversifikasi bisnis, perusahaan minyak seperti Shell dan Total juga beralih ke bisnis charging," kata dia.

    Setelah mitra terpilih, Pertamina baru akan melakukan studi kelayakan mengenai pabrik baterai tersebut. Dari studi kelayakan tersebut dapat diketahui berapa kapasitas output dan input pabrik sehingga nilai investasi baru akan diketahui secara pasti.

    Selain pabrik baterai, Pertamina juga menarget pada 2020 akan membangun charging station di salah satu stasiun pengisian bahan bakar (SPBU). Meskipun belum memastikan lokasi SPBU, Pertamina akan memasang charging station tersebut di SPBU milik perseroan yang berada di wilayah Jakarta Bogor Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) karena ekosistem kendaraan listrik yang lebih berkembang.

    Pertamina berencana membangun fast charging station dengan nilai investasi sekitar Rp700 juta hingga Rp800 juta per unit. Adapun terkait jumlah unit yang akan dibangun, hingga saat ini masih diperhitungkan.

    Menurut Kristiadi, rencana pembangunan charging station tersebut juga masih terkendala pada persoalan keekonomian. Apalagi, hingga saat ini tarif jual listrik di charging station belum ditentukan oleh pemerintah. Selain itu, Pertamina juga perlu memproses perizinan pembangunan kendaraan listrik yang dikeluar oleh pemerintah.

    "Hanya saja masalahnya keekonomian kita harus beli berapa dari PLN dan perijinan juga untuk menjadi penjual," kata Kristiadi.

    Menurut dia, dalam upaya mendukung percepatan penggunaan kendaraan listrik, Pertamina juga berencana masuk dalam bisnis battery swap atau sistem ganti baterai dan battery recycling. Namun, hal itu masih menjadi rencana karena ekosistem kendaraan listrik di Indonsia belum cukup berkembang.

    Apalagi, penerapan sistem battery swap di Indonesia cukup sulit karena teknologi baterai yang berbeda-beda. Tidak seperti di luar negeri yang jenis baterainya sama. Saat ini sistem battery swap yang berjalan cukup baik baru berada di Taiwan.

    "Prioritas adalah industri baterai, kami juga perlu mengembangkan pasar," jelas dia.




    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id