PLTU Jeranjang 'Tulang Punggung' Kelistrikan Lombok

    Ade Hapsari Lestarini - 12 Februari 2020 12:17 WIB
    PLTU Jeranjang 'Tulang Punggung' Kelistrikan Lombok
    PLTU Jeranjang 'Tulang Punggung' Kelistrikan Lombok. Foto: Medcom.id/Ade Hapsari
    Mataram: Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeranjang yang dioperasikan anak usaha PT PLN (Persero), PT Indonesia Power, menjadi backbone (tulang punggung) sistem kelistrikan di Nusa Tenggara Barat (NTB).

    Demikian disampaikan Manager External Stakeholder Relation Group Of Corporate Communication PT Indonesia Power Head Office, kepada Medcom.id, di Mataram, Lombok, Rabu, 12 Februari 2020.

    "PLTU Jeranjang Operation and Maintanance Services Unit (OMU) berperan sebagai backbone kelistrikan NTB, khususnya pulau Lombok dengan daya pasok sebesar 3x25 megawatt (mw)," jelas dia.

    Dia mengatakan PLTU Jeranjang OMU memiliki daya terpasang sebesar 3x25 mw, sehingga PLTU Jeranjang OMU dapat menyokong kelistrikan sebesar 26 persen dari total keseluruhan daya terpasang.

    Adapun kondisi kelistrikan Lombok memiliki daya terpasang sebesar 281 mw dengan beban puncak sebesar 261 mw. Bauran sumber pasokan komposisi pembangkit listrik yang menyokong pulau Lombok terdiri atas komposisi PLTU, PLTD, PLTG, PLTA, dan PLTS.

    "Bersama dengan PLTU IPP LED, PLTU Jeranjang OMU berperan sebagai pembangkit base load di NTB, khususnya pulau Lombok," tambah dia.

    Pelet Sampah

    Di sisi lain, PLN terus mendorong penggunaan olahan sampah menjadi pengganti bahan bakar pembangkit. PLN bersama anak usahanya mengembangkan penggunaan pelet sampah untuk PLTU.

    PLH Manager PLTU Jeranjang Nandang Safrudin menjelaskan olahan sampah dalam bentuk pelet setara dengan batu bara kalori rendah yang digunakan untuk bahan bakan pembangkit.

    "Kami sudah lakukan riset dan ujicoba, khususnya untuk mengukur optimasi substitusi peletnya. Hasilnya antara 3-5 (persen), namun memang paling optimal ada di tiga persen," ucap Nandang.

    Jika menggunakan batu bara secara penuh, dalam satu jam kondisi maksimal, PLTU Jeranjang membutuhkan 200 ton batu bara sebagai bahan bakar. Dengan substitusi sebesar tiga persen, maka dibutuhkan 600 kilogram pelet setiap jam sebagai pengganti batu bara.

    Untuk mendorong ketersediaan pelet guna kebutuhan PLTU Jeranjang, PLN saat ini telah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi NTB melakukan pendampingan kepada pengelola Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok untuk mengubah sampah menjadi pelet.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id