KKKS Boleh Pilih Skema Gross Split atau Cost Recovery

    Suci Sedya Utami - 27 November 2019 21:45 WIB
     KKKS Boleh Pilih Skema  <i>Gross Split</i> atau <i>Cost Recovery</i>
    Illustrasi. Foto : AFP.
    Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mengkaji kemungkinan untuk memperbolehkan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) memilih penggunaan skema bagi hasil cost recovery atau gross split berdasarkan perhitungan masing-masing lapangan migas.

    Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam rapat mengatakan saat ini pihaknya tengah membahas kemungkinan untuk merevisi Peraturan Menteri ESDM Nomor 52 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Permen ESDM No. 08 Tahun 2017 Tentang Kontrak Bagi Hasil Gross Split. Dalam Permen tersebut mengatur kewajiban bagi KKKS untuk menggunakan skema bagi hasil gross split baik untuk perpanjangan kontrak wilayah kerja maupun kontrak baru di suatu wilayah kerja.

    "Kita menawarkan demikian (bisa memilih), karena fleksibilitas itu ada. Sehingga memang daya tarik untuk investasi di situ lebih baik," kata Arifin di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 27 November 2019.

    Arifin mengatakan pihaknya melakukan dialog dengan para investor migas dan menanyakan mana skema yang kiranya lebih baik. Arifin bilang dari jawaban para investor menyatakan apabila setiap lapangan migas tidak bisa disamaratakan menggunakan satu skema sebab karakteristik masing-masing lapangan berbeda.

    Arifin mengatakan semakin berada di wilayah yang sulit dijangkau (remote area) dan berisiko tinggi maka kecenderungannya menggunakan skema cost recovery. Sementara untuk pengguna skema gross split lebih diminati oleh KKKS di wilayah kerja eksisting karena dianggap lebih jelas dan risikonya kecil.

    "Kalau gross split biasanya orang senang yang sudah pasti, kalau high risk itu lebih yang cost recovery karena mereka (ingin) risiko hilang," jelas Arifin.

    Mantan Wakil ESDM Arcandra Tahar pernah mengkaim skema bagi hasil atau gross split yang diberlakukan Indonesia di sektor migas diminati negara lain. Arcandra mengatakan saat dirinya menghadiri acara ministerial meeting di Singapura pekan lalu ada negara yang menyatakan ketertarikannya dengan kebijakan fiskal untuk investor migas tersebut.

    "Waktu ministerial meeting di Singapura minggu lalu beberapa negara sangat tertarik dengan rezim fiskal kita yang baru, gross split," kata Arcandra di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Kamis, 15 November 2018.

    Namun Arcandra enggan menyebutkan nama-nama negara tersebut. Meski demikian dirinya mengatakan kebijakan gross split yang diberlakukan di Indonesia dianggap sangat progresif. Hal ini sekaligus merespon mengenai kritik terkait gross split.

    "Mereka anggap cara-cara ini sangat progresif, kita punya komitmen kerja pasti (KKP), blok kita udah laku yang gross split. Ini kenyataan, mau bukti apa lagi," tutur Arcandra.

    Berikut adalah beberapa perbedaan antara kedua skema tersebut:

    Gross split

    1. Pendapatan/produksi dibagi antara pemerintah dan kontraktor.
    2. Pemerintah tidak berbagi risiko biaya produksi dan hanya menerima bagian dari pendapatan kotor penjualan.
    3. Besaran laba kotor disesuaikan berdasarkan keuntungan yang diperoleh oleh kontraktor sehingga bersifat progresif dan adjustable.

    Cost Recovery

    1. Keuntungan dibagi antara pemerintah dan kontraktor.
    2. Pemerintah dan kontraktor berbagi risiko biaya.
    3. Kontraktor harus menentukan klasifikasi biaya yang berpotensi adanya mark up dari KKKS.

    Mantan Menteri ESDM Ignasius Jonan sebelumnya mengatakan dengan skema gross split, pemerintah bisa mengurangi beban anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Sebab biaya operasi tidak lagi dibebankan ke negara namun ke kontraktor migas.




    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id