Investasi di Sektor Minerba Makin Menciut

    Suci Sedya Utami - 11 Februari 2020 17:56 WIB
    Investasi di Sektor Minerba Makin Menciut
    Ilustrasi tambang batu bara/Antara Foto/Puspa Perwitasari
    Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuat perencanaan investasi di sektor mineral dan batu bara (minerba) selama lima tahun ke depan. Hingga 2024, investasi yang direncanakan makin mengecil nominalnya.

    Berdasarkan data Kementerian ESDM investasi di 2020 sebesar Rp7,75 triliun, 2021 sebesar Rp5,69 triliun, 2022 sebesar Rp4,36 triliun, 2023 sebesar Rp2,29 triliun, dan 2024 sebesar Rp3,18 triliun.

    Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan makin mengecilkan investasi tersebut sejalan dengan proyek pembangunan fasilitas pemurnian dan pengolahan (smelter) yang mulai selesai dan beroperasi.

    "Investasi turun sampai 2024, ini berkurang karena memang pembangunan smelter berkurang dan investasi smelter juga berkurang 2021-2024," kata Bambang dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 11 Februari 2020.

    Adapun investasi di tahun ini merupakan yang terbesar di masa pemerintahan presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Maruf Amin lima tahun mendatang. Serta meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejalan banyaknya proyek pembangunan smelter.

    "Tahun ini sebesar USD7,7 miliar karena termasuk smleter yang dipunyai oleh Amman Mineral dan Freeport Indonesia. Investasi pada tahun ini juga turut disumbang alokasi investasi untuk pengembangan tambang bawah tanah Freeport Indonesia," ujar Bambang.

    Ia juga menjelaskan kontribusi Izin Usaha Pertambangan (IUP) daerah untuk investasi juga cukup besar pada tahun ini. Tercatat, IUP daerah berencana menggelontorkan dana sebanyak USD988 juta.

    Tahun ini, meski target investasi cukup tinggi, namun masih didominasi untuk sektor hilir minerba. Dirinya menjelaskan untuk alokasi eksplorasi memang tidak banyak. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk bisa menciptakan iklim investasi khusus untuk eksplorasi yang lebih menarik lagi.

    "Dibandingkan dengan pertambangan global kita juga kecil, kami dalam hal ini bagaimana meningkatkan daya tarik investasi. Perkembangan invest dipengaruhhi harga logam. Kita lihat global non exploration budget dipengaruhi harga daripada logam," jelas dia.

    Lebih jauh, realisasi investasi di sektor minerba di tahun lalu mencapai 105 persen. Bambang merinci Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) mematok investasi sebesar USD6,1 miliar, dan realisasi mencapai USD6,5 miliar.

    "Realisasi investasi 2019 dari mulai KK (Kontrak Karya), PKP2B (Perjanjian Karya Pertambangan Batu Bara) dan IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus) dari 220 perusahaan mencapai 100,5 persen dari realisasi yang dicapai dari target," jelas dia.
     



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id