PLN Bangun 2 Pembangkit Sokong Keandalan Listrik Batam-Bintan

    Husen Miftahudin - 25 Oktober 2019 09:48 WIB
    PLN Bangun 2 Pembangkit Sokong Keandalan Listrik Batam-Bintan
    Ilustrasi. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin
    Batam: PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Riau dan Kepulauan Riau (UIWRKR) akan membangun dua pembangkit listrik di Pulau Bintan. Keduanya ialah Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) sebesar 33 MW dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kapasitas 2x100 MW.

    General Manager PLN UIWRKR M Irwansyah Putra mengatakan kedua pembangkit bakal menyokong keandalan listrik dan mendorong bauran energi pembangkit (fuel mix) Batam-Bintan. Apalagi mayoritas sokongan kelistrikan di Pulau Batam berasal dari pembangkit gas.

    "Di samping dia untuk menambah pertumbuhan, juga untuk mem-back up pembangkit-pembangkit yang ada di Batam karena pembangkit di Batam mayoritas gas," ujar Irwansyah, dalam Media Visit PLN di Kota Batam, Kepulauan Riau, Kamis, 24 Oktober 2019.

    Irwansyah menyebutkan PLTG dibangun di Tanjungpinang dengan target pengoperasian komersial atau Commercial Operation Date (COD) pada 2020. Sementara PLTU dibangun di Bintan dengan target pengoperasian komersial pada 2023/2024.

    Pembangunan kedua pembangkit dimaksudkan untuk menyeimbangkan tingkat bauran energi pembangkit. Meski Irwansyah tak menyebut angka aman keseimbangan bauran energi pembangkit, namun pembangunan PLTU 2x100 MW diharapkan mampu mendorong fuel mix tersebut.

    "Karena di Batam mayoritas gas, sehingga fuel mix belum memberikan angka yang aman. Karena di dalam fuel mix ini ada angka aman pada berapa kapasitas untuk menggunakan gas, batu bara. Apabila gas shortage (kekurangan), batu bara mem-back up shortage gas tersebut. Begitu juga ketika batu bara lagi problem, pembangkit-pembangkit gas bisa mengover," jelasnya.

    Termasuk, lanjut dia, ketika pembangkit-pembangkit tersebut harus dilakukan pemeliharaan. Ketika terjadi pemeliharaan pada satu pembangkit, maka pembangkit yang lain harus menopang daya kelistrikan Batam-Bintan.

    "Pada saat ini kita belum mendapat komposisi aman itu pada saat ada shortage gas, pemeliharaan di pipa-pipa gas atau pemeliharaan di sumur-sumur gas. Ini masih memberikan dampak terhadap kecukupan daya di sistem Batam. Jadi dengan adanya PLTU, komposisi daripada fuel mix bisa kita capai kelistrikaan sistem Batam-Bintan," ungkap Irwansyah.

    Sistem kelistrikan Batam-Bintan saat ini melalui interkoneksi listrik menggunakan instalasi kabel bawah laut dengan tegangan menengah (TM) 20 kilovolt dan tegangan tinggi (TT) 150 kilovolt. Ketersambungan listrik kedua pulau berkat kerja sama antara PT PLN (Persero) dengan anak usahanya, PT Pelayanan Listrik Nasional Batam (PLN Batam).

    Daya pasok kelistrikan Batam-Bintan berasal dari sistem Tanjungpinang, Belakang Padang, dan Batam. Kondisi kelistrikan di Belakang Padang, daya mampunya saat ini sebesar 2 MW, beban puncak 1,06 MW dan surplus 0,94 MW.

    Sementara kondisi kelistrikan di Tanjungpinang, daya mampu saat ini sebesar 147,5 MW dan beban puncak sebesar 81,9 MW. Ada surplus listrik sebesar 65,6 MW sehingga kondisi kelistrikan di sistem ini dalam status aman.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id