Pengembangan Blok Masela Sumbang Penerimaan Rp2.135,8 Triliun bagi RI

    Suci Sedyautami - 17 Juli 2019 17:16 WIB
    Pengembangan Blok Masela Sumbang Penerimaan Rp2.135,8 Triliun bagi RI
    Illustrasi. Dok : AFP.
    Jakarta: Proyek Lapangan Gas Abadi, Blok Masela akhirnya bisa dilanjutkan setelah revisi proposal pengembangan atau plan of development (POD) yang diusulkan Inpex Corporation disetujui pemerintah. Pengembangan proyek kilang liquefied natural gas (LNG) yang awalnya diusulkan terapung akhirnya disepakati menjadi di daratan.

    Presiden Joko Widido pun mengungkapkan dua pertimbangan yang mendasari keputusan tersebut. Pertama, pemerintah ingin perekonomian daerah dan perekonomian nasional bisa terimbas dari adanya pembangunan proyek Blok Masela. Kedua, proyek ini akan ikut membuat wilayah sekitar regional Maluku berkembang pembangunannya.

    "Dari kalkukasi, dari perhitungan, dari pertimbangan-pertimbangan yang sudah saya hitung kita putuskan dibangun di darat. Dengan pertimbangan yang pertama kita ingin ekonomi daerah juga ekonomi nasional itu terimbas dari adanya pembangunan blok Masela. Yang kedua juga pembangunan wilayah, regional development juga kita ingin agar terkena dampak dari pembangunan besar proyek Marsela ini," ujar Jokowi.

    Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan pun meyakini dengan investasi sekitar USD18 miliar hingga USD20 miliar tentu akan bisa menyerap tenaga kerja baik saat konstruksi maupun ketika beroperasi.

    Inpex sebagai operator menyatakan proyek ini akan memberikan manfaat yang besar bagi Indonesia. Mengutip data Inpex, Rabu, 17 Juli 2019, secara nasional proyek ini bakal menghasilkan potensi penerimaan negara sebesar USD153 miliar atau setara Rp2.135,8 triliun. 

    Proyek ini nantinya akan menciptakan penghasilan bagi rumah tangga sebesar USD33 miliar atau setara Rp460,8 triliun dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi 73 ribu orang per tahunnya.

    Di level provinsi yakni untuk Provinsi Maluku, proyek pengembangan Blok Masela memiliki potensi penerimaan sebesar USD95 miliar atau setara Rp1.326,6 triliun dan penhasilan bagi rumah tangga sebesar USD7 miliar atau setara Rp97,7 triliun. Serta menciptakan lapangan pekerjaan sebesar 21 ribu orang per tahun.

    Adapun di level kabupaten yakni Kepulauan Tanimbar, proyek ini akan menghasilkan pundi-pundi bagi daerah tersebut sebesar USD90 miliar atau setara Rp1.257,1 triliun dan penghasilan bagi rumah tangga sebesar USD5 miliar atau setara Rp68,8 triliun. Serta peluang lapangan pekerjaan sebesar delapan ribu orang per tahun.

    Data tersebut merupakan studi yang dilakukan oleh Universitas Indonesia dan Universitas Patimura Ambon mengenai multiplier effect proyek tersebut dengan asumsi fase konstruksi yang dimulai pada 2022 hingga selesai fase produksi di 2055.

    Menanggapi hal tersebut, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan proyek tersebut akan memberi dampak yang besar bagi perekonomian Indonesia terutama di bagian timur.

    "Revenue yang bisa di-collect sampai 20255 adalah sekitar USD137 miliar, cukup besar dampaknya pada ekonomi nasional," kata Dwi.

    Pengembangan hulu migas di Masela diharapkan dapat memberikan kontribusi tambahan produksi Gas Bumi sekitar ekuivalen 10,5 juta ton (mtpa) per tahun (sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun dan 150 juta kaki kubik atau mmscfd Gas Pipa), dengan target onstream di 2027.




    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id