Tahun Depan Produksi Freeport Diramal Kembali Normal

    Suci Sedya Utami - 11 Februari 2020 22:02 WIB
    Tahun Depan Produksi Freeport Diramal Kembali Normal
    Freeport Indonesia. Foto : AFP.
    Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui terjadi penurunan kegiatan ekonomi yang disebabkan oleh peralihan ladang tambang Grasberg ke lahan bawah tanah dalam operasional PT Freeport Indonesia.

    Dirjen Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan peralihan tersebut membuat produksi bijih emas dan tembaga Freeport tidak maksimal sehingga serapan tenaga kerja di Papua ikut menurun. Akibatnya laju pertumbuhan ekonomi di bumi cenderawasih itu terhempas dan minus.

    "Jadi memang kapasitas (operasinalnya) turun, jadi yang terlibat mesti turun, pegawai turun, kontraktor turun semua karena memang kegiatan perpindahan fase," kata Bambang di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 11 Februari 2020.

    Namun demikian, lanjut Bambang diharapkan produksi tersebut akan kembali mencapai 100 persen atau full capacity pada 2021. Sehingga akan berdampak baik pada perekonomian Papua.

    Selain itu, bisa menciptakan dividen yang pada awalnya direncanakan digunakan untuk mengembalikan pinjaman yang dilakukan Inalum sebagai wakil pemerintah saat mengambilalih kepemilikan saham PTFI menjadi sebesar 51 persen.

    "Diharapkan di 2021 sudah ada produksi full capacity yang nantinya akan menghasilkan dividen sehingga dividen itulah yang dalam tiga-empat tahun akan digunakan untuk menyelesaikan pinjaman," jelas Bambang.

    Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan peralihan peralihan kegiatan tambang Freeport dari tambang terbuka menjadi tambang bawah tanah (underground mining) menyebabkan produksi tembaga dan emas Freeport turun dan berdampak pada merosotnya kinerja ekonomi di Papua.

    "Penyebab utamanya adalah Freeport. Penurunan produksi karena ada sistem tambang yang ada di sana itu yang menyebabkan papua mengalami kontraksi yang cukup dalam -15 persen pada 2019," kata Kepala BPS Suhariyanto.

    Dirinya mengatakan sejak akhir tahun 2018, ekonomi Papua selalu tumbuh negatif. Di kuartal IV-2018, pertumbuhannya -17,95 persen setelah di tiga kuartal sebelumnya tumbuh masing-masing sebesar 6,20 persen di kuartal tiga, 23,89 persen di kuartal II, dan 26 persen di kuartal I.

    Pertumbuhan negatif berlanjut di kuartal I tahun 2019 yang sebesar -18,66 persen, kuartal II -23,91 persen, kuartal II -15,05 persen dan kuartal IV -3,73 persen.

    Dari catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perusahaan yang diajukan terjadi penurunan target produksi Freeport dari tahun 2018 sejalan dengan adanya transisi tambang Grasberg ke tambang bawah tanah.

    Direktur Mineral Yunus Saefulhak mengatakan tahun 2018 realisasi produksi bijih tembaga mentah atau ore mencapai 270 ribu ton per hari dengan jumlah produksi konsentratnya mencapai 2,1 juta ton dalam setahun. Dari produksi konsentrat tersebut sebanyak 1,2 juta ton diperuntukan untuk ekspor sedangkan 800 ribu tonnya disalurkan ke PT Smelting Gresik untuk dilakukan pemurnian dan pengolahan.

    Yunus mengatakan produksi konsentrat Freeport 2019 diperkirakan hanya 1,2 juta ton. Dari jumlah tersebut 200 ribu ton akan diekspor dan satu juta ton akan diolah di PT Smelting Gresik.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id