Sulap Sampah Jadi Energi Alternatif Ramah Lingkungan

    Suci Sedya Utami - 13 November 2019 18:23 WIB
    Sulap Sampah Jadi Energi Alternatif Ramah Lingkungan
    Penggunaan energi alternatif ramah lingkungan. Foto: Medcom.id/Suci Sedya Utami.
    Surabaya: Sampah masih menjadi salah satu masalah terbesar yang mencemari lingkungan Indonesia. Hampir semua wilayah di Indonesia mengalami kendala dalam mengelola sampah.

    Itikad untuk mengurangi sampah dan mengelolanya menjadi sesuatu yang bernilai guna pun kini sudah masif dilakukan di beberapa daerah. Salah satu contohnya di Kampung Hijau yang terletak di Kelurahan Jagir Wonokromo, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya.

    Desa binaan Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara ini mampu mengubah sampah organik menjadi energi alternatif ramah lingkungan. Kampung Hijau mampu menyulap limbah rumah tangga sisa makanan menjadi biogas yang merupakan salah satu sumber energi terbarukan.

    Suwito, warga kampung tersebut yang juga pengelola daur ulang sampah menjadi biogas ini mengatakan ide untuk menghasilkan biogas tersebut tidak lain yakni ingin menjadikan lingkungan tempat tinggalnya bersih dari sampah. Selain itu untuk menghasilkan bahan bakar yang selalu terbarukan dan tidak habis.

    Meski memang diakui Suwito produksi biogasnya tidak banyak, namun setidaknya wilayah di tempat tinggalnya mampu berkontribusi untuk mengurangi sebaran sampah dan memperbaiki lingkungan menjadi lebih bersih. Apalagi, curhat salah satu petinggi kampung, kampung tersebut berdekatan dengan tempat yang dulunya merupakan wilayah 'lokalisasi'. Sehingga apabila tidak dibuatkan program yang bersifat positif, tentu nama kampung bisa saja ikut terseret dan dipandang negatif. Oleh karenanya, menciptakan karya positif tentu akan membuat kampung ini dipandang baik.

    Sulap Sampah Jadi Energi Alternatif Ramah Lingkungan
    Suwito, warga Kampung Hijau yang juga pengelola daur ulang sampah menjadi biogas. Foto: Medcom.id/Suci Sedya Utami.

    Suwito bilang seluruh warga di kampung tersebut memiliki kesadaran untuk berhijrah demi lingkungan yakni dengan mengumpulkan dan menyumbang sampah hasil rumah tangga terutama kubis ke bank sampah. Nantinya sampah tersebut akan dimasukkan ke dalam empat buah tabung yang dihubungkan dengan paralon yang telah dilubangi.

    "Kita isi dengan kubis, kenapa? Karena itu lebih cepat fermentasinya. Kubis kan sayuran yang mengandung gas. Lalu kita tambahkan kulit nanas untuk mengurangi bau sampah dan diisikan air cucian beras 20 persen dari kapasitas tangki," kata Suwito pada Medcom.id.

    Tangki tersebut kemudian ditutup rapat dan dibiarkan hingga mengembang dan gasnya naik selama kurang lebih satu minggu. Kemudian, kata Suwito gas yang dihasilkan tersebut dipindahkan ke sebuah wadah. Saat ini, dia mengatakan wadah yang digunakan masih berupa plastik besar dengan diameter satu kali 0,5 meter karena belum menemukan tempat yang pas untuk menampung gas.

    Suwito mengatakan gas yang dihasilkan tersebut dapat digunakan untuk memasak selama dua jam tanpa henti. Selain digunakan sebagai alternatif pengganti LPG, minyak tanah atau kayu bakar untuk keperluan memasak ibu-ibu rumah tangga jika ada kegiatan perkumpulan, gas tersebut juga digunakan oleh salah satu warung kopi (warkop) di kapung tersebut.

    "Ini sering digunakan untuk memasak dan warkop yang buka sejak sore hari, biasanya pakai ini. Tapi ya memang tidak bisa setiap hari karena terbatas," tutur Suwito.

    Sulap Sampah Jadi Energi Alternatif Ramah Lingkungan
    Ibu-ibu rumah tangga menggunakan biogas untuk memasak. Foto: Medcom.id/Suci Sedya Utami.

    Selain mengubah sampah organik menjadi biogas, Kampung Hijau juga mengelola dan memanfaatkan sampah plastik menjadi bernilai ekonomi. Misalnya saja mengolah botol plastik yang kemudian dipotong hingga menjadi bubuk atau serbuk. Bubuk plastik tersebut lalu dijual. Upaya pengelolaan ini membut Kampung Hijau berhasil menyabet penghargaan menjadi kampung terinovatif selama empat kali.

    Unit Manager Communication and CSR Pertamina MOR V Rustam Aji mengatakan awalnya pihaknya membekali kampung ini dengan pengetahuan tentang pengelolaan sampah. Tujuannya, kata Rustam tidak lain untuk menciptakan lingkungan pemukiman yang sehat dengan kehidupan warganya yang guyub dan sekaligus mendukung Pemerintah Kota Surabaya untuk mengurangi sampah.

    Rustam bilang kehadiran bank sampah telah mengurangi kebiasan warga membuang sampah di sekitar pemukiman dengan mengajak ibu-ibu rumah tangga memilah sampah organik dan anorganik dari rumah tangga. Sampah-sampah anorganik dan plastik akan dikumpulkan dalam bank sampah yang kemudian dijual ke pengepul yang uangnya digunakan untuk membiayai berbagai kegiatan warga lainnya. Sedangkan sampah organik dibuat pupuk untuk tanaman penghijauan di kampung itu. Ia bilang Pertamina telah mengucurkan dana sekitar Rp600 juta selama dua tahun terakhir, termasuk untuk pemberdayaan ekonomi.

    "Supaya mereka merasa berfaanfaat jadi kita masuk juga ke pemberdayaan ekonominya," kata Rustam pada Medcom.id.

    Program pengelolaan dan pemanfaatan sampah tidak hanya ada di Surabaya, namun juga di Boyolali, Jawa Tengah. Fuel Terminal Manager Boyolali MOR VI Mangku Hidayat Basuki menjelaskan pihaknya melalui program sosial dan tanggung jawab perusahaan mencoba mengubah lahan seluas dua hektare yang berada di Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali yang selama 33 tahun tidak termanfaatkan.

    Berawal dari pemetaan sosial oleh Universitas Diponogoro (Undip) pada 2016 kemudian terpotret potensi yang bisa diangkat untuk mengubah lahan kritis tersebut menjadi lahan produktif salah satunya dengan membangun tempat pengelolaan sampah, peternakan sapi dan instalasi biogas yang juga disertai dengan menjadikannya sebagai lokasi outbond. Pendirian lokasi tersebut pada 2017 diberi nama Campbell Edupark Tawangsari.

    Limbah dari kotoran sapi tersebut kemudian disulap menjadi biogas. Dalam satu bulan, biogas yang diproduksi sekitar 30 meter kubik. Ia bilang biogas tersebut dapat digunakan untuk memasak di kompor selama 90 jam.

    Diakui dirinya saat ini pemanfaatan biogas memang masih untuk skala kecil yakni digunakan untuk Kelompok Ternak Lembu Sapi Andini dalam mengelola susu sapi yang dimatangkan. Sementara sisa biogasnya digunakan untuk dijadikan pupuk organik.

    "Insyaallah nanti ketika revenue si Cambell ini bertambah, bisa bertambah lagi jumlah sapinya sehingga diharapkan bisa dibuatkan jaringan biogas ke rumah-rumah tangga," kata Mangku pada Medcom.id.

    Saat ini terdapat empat peternak sapi dalam kelompok tersebut. Kotoran sapi yang termanfaatkan menjadi biogas sebanyak 125 kilo gram. Sedangkan susu yang bisa dihasilkan mencapai 200 liter. Dari produksi tersebut minimalnya dalam sebulan bisa menghasilkan penghasilan tambahan sebesar Rp7,3 juta per bulan.

    Lebih lanjut, Mangku menambahkan karena kawasan ini terintergrasi dengan edupark, maka pemasukannya pun cukup tinggi karena banyak pengunjung yang datang. Hingga Desember 2018 pemasukan untuk kawasan ini pencapai Rp81,36 juta.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id