Jangan Sampai Keuangan Menipis saat WFH

    Ade Hapsari Lestarini - 20 April 2020 15:23 WIB
    Jangan Sampai Keuangan Menipis saat WFH
    Foto: Grafis Medcom.id.
    Jakarta: Para pelaku bisnis banyak yang merumahkan pekerjanya alias work from home (WFH). Hadirnya virus covid-19 tak ditampik telah menghantam sektor perekonomian Indonesia.

    Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat jumlah pekerja formal yang terkena PHK sebanyak 212.394, sedangkan yang dirumahkan dengan status digaji sebagian ataupun tidak digaji sama sekali telah mencapai 1.205.191 pekerja.

    Kebijakan pemerintah untuk meminta masyarakat tetap beraktivitas di rumah sudah berjalan sebulan ini, tanpa sadar sudah mengganggu arus pemasukan dan pengeluaran.

    Bagi teman-teman yang mungkin diberhentikan atau dirumahkan oleh perusahaannya, mau tidak mau jadi kehilangan pemasukan bulanan. Sedangkan yang masih mendapat gaji bulanan, tanpa sadar juga melakukan konsumsi yang tidak diperlukan, bahkan melebihi jatah 'jajan' dari hari biasa.

    Di sisi lain, Kita masih perlu melakukan transaksi harian dan bulanan seperti pembelian barang kebutuhan sehari-hari via online, pembayaran internet yang jadi penting selama WFH, atau sekadar top-up ojek online untuk membeli makanan kesukaan.

    Menyadari hal tersebut aplikasi untuk solusi finansial dari Indonesia, OY! Indonesia, menekankan pentingnya bertransaksi secara cermat selama masa pandemi ini.

    "Terkadang kita masih belum sadar kalau transaksi sehari-hari bisa menimbulkan biaya ekstra disaat sebenarnya bisa untuk dihemat. Di masa yang tidak stabil ini, OY! mengajak masyarakat untuk bisa lebih bijak dalam bertransaksi termasuk mengatur keuangan dan terkontrol dengan baik," ujar CEO OY! Indonesia Jesayas Ferdinandus dalam keterangan tertulisnya, Senin, 20 April 2020.

    Dia menjelaskan salah satu pengeluaran sehari-hari yang dapat ditekan misalnya biaya transfer antarbank atau top up e-wallet. Jika Anda sehari bertransaksi hingga lima kali dan per transaksi dikenakan biaya hingga Rp6.500, berapa banyak pemborosan yang terjadi?

    "Apalagi kita akan sering melakukan pembelian online dan perlu melakukan top-up e-wallet atau e-money. OY! membantu masyarakat dengan fitur transaksi antarbank dan top up yang bebas biaya admin agar pengeluaran menjadi lebih efisien," lanjut Jesayas.

    OY! juga memudahkan pengguna untuk memantau pengeluaran dan pemasukan dari rekeningnya dengan fitur pintar Personal Financial Management (PFM). Bahkan para pengguna aplikasi dapat melihat ke mana uang mereka dikeluarkan sesuai dengan kategori peruntukannya, seperti apakah ke kebutuhan makanan, belanja e-commerce, dan sebagainya.

    "Di masa pandemi #DiRumahAja seperti ini, tentu tetap ada kebutuhan transfer uang dengan jumlah yang besar di masyarakat, seperti  membayar cicilan mobil, DP rumah, bayar sewa rumah, dan lainnya. Karena di masa wabah yang mengharuskan physical distancing sebaiknya masyarakat menghindari fasilitas umum seperti Bank atau setor tunai di ATM dan menggunakan fasilitas #BankingFromHome," tambahnya.

    Dia mengatakan OY! Indonesia pun telah menaikkan limit transfer menjadi Rp400 juta sehari untuk setiap pengguna yang membutuhkan transaksi yang lebih banyak dalam jumlah yang lebih besar, sehingga masyarakat dapat melakukan #BankingFromHome tanpa harus ke fasilitas umum seperti ATM atau bank.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id