Generasi Muda Dituntut Menjawab Tantangan Disrupsi Digital

    Al Abrar - 21 Oktober 2021 12:26 WIB
    Generasi Muda Dituntut Menjawab Tantangan Disrupsi Digital
    ilustrasi. Medcom.id



    Jakarta: Generasi muda dituntut untuk cakap digital untuk menjawab tantagan eras disrupsi digital. Kemampuan atau cakap digital dalam pemanfaatan media sosial dapat meningkatkan produktivitas di era perkembangan saat ini. 

    Dirjen Aplikasi Informatika, Semuel A. Pangerapan, mengatakan sudah menjadi satu kewajiban bagi generasi muda untuk cakap dalam literasi digital di era pandemi saat ini. Dengan cakap digital, generasi muda memiliki peranan besar dalam kemajuan berbagai sektor di Indonesia

     



    Selain itu kehadiran pandemi dan pesatnya perkembangan teknologi telah mengubah cara kita beraktivitas dan bekerja. Kehadiran teknologi sebagai bagian dari kehidupan masyarakat inilah yang semakin mempertegas bahwa kita tengah menghadapi era disrupsi teknologi.

    "Sehingga dapat lebih memahami penggunaan media digital dengan bijak serta dengan menyuguhkan konten dalam platform media yang bermanfaat," kata Semuel dalam diskusi Webinar Ngobrol Bareng Legislator yang bertajuk "Makin Cakap Digital" yang diselenggarakan di Jakarta, pada Selasa, 19 Oktober 2021. 

    Sementara itu, dalam pengantarnya, Anggota Komisi I DPR, Rizki Sadig menyampaikan generasi muda dihadapkan dengan situasi, bahwa untuk memahami dan mengoperasikan media komunikasi melalui teknologi informasi dan komunikasi (TIK) digital. 

    Untuk itu, di era pandemi saat ini untuk memaksimalkan diri karena hampir semua aktivitas sosial dihubungkan dengan media sosial atau media digital. 
     
    "Hal ini merupakan sesuatu untuk anak muda yang akan mendominasi populasi di Indonesia" ujar Rizki.

    Baca: Generasi Muda Dituntut Menjawab Tantangan Ekonomi Digital

    Sementara lda Wiyekdella atau yang akrab disapa dengan Awdella Idol mengatakan, media sosial juga bisa menjadi toxic bagi diri sendiri jika tidak dapat dikendalikan dengan baik. Toxicity dalam media sosial dapat mengabaikan dunia nyata.

    "Kita jadi sering scroll media sosial sehingga bisa jadi hobi kita dan membuat hidup kita tidak produktif. Kemudian kita juga bisa jadi insecure karena selalu membandingkan diri dengan orang lain di media sosial dan terus merasa kurang." 

    "Nah, biar kita tidak mendapatkan toxicity dalam bermedia sosial itu kita bisa mengontrol diri, mungkin bisa meng-unfollow, block, atau mute akun yang menurut kita itu toxic dan membuat diri kita gak nyaman," ujarnya.

    Pegiat Media Sosial Dimas Prakoso Akbar menambahkan cara untuk generasi muda menjawab tantangan era disrupsi digital saat ini yaitu dengan menjadikan disrupsi digital sebagai peluang. Peluang untuk melakukan personal branding, peluang untuk products branding.

    Selanjutnya juga menjadi peluang untuk melakukan analisis pada setiap hal yang sedang nge-trend, serta menjadi solusi atas semua permasalahan dari aktivitas masyarakat Indonesia saat ini," kata Dimas.


    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id