Dorong IPO, BEI Masih Lakukan Pendekatan ke Startup

    Nia Deviyana - 25 Mei 2019 13:20 WIB
    Dorong IPO, BEI Masih Lakukan Pendekatan ke <i>Startup</i>
    Ilustrasi (Foto: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti)
    Jakarta: Bursa Efek Indonesia (BEI) masih melakukan pendekatan agar perusahaan rintisan atau startup mau melantai di bursa atau melakukan penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO).

    Menurut Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna, IPO tidak hanya membantu menambah permodalan dan memberikan akses yang lebih luas agar perusahaan semakin dikenal publik, tetapi juga membantu perusahaan memberikan atribusi terhadap investor yang menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut.
    "Kita selalu bilang jadi lah besar di pasar modal. Jadi tidak perlu menunggu punya aset besar. Bahkan yang baru merintis, katakanlah 12 bulan, kita berikan kesempatan," ujar Nyoman usai menghadiri buka bersama awak media di kawaasan SCBD, Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat, 24 Mei 2019.

    Kendati demikian, bukan berarti BEI tidak punya syarat ketat untuk perusahaan yang ingin IPO. Dia menegaskan perusahaan harus menjelaskan kepada BEI mengenai model bisnis yang menjadi tulang punggung perusahaan. Selain itu, perusahaan juga harus mengikuti pelatihan di IDX Inkubator untuk mempersiapkan diri.

    "Karena saat masuk publik karena ada banyak konsekuensi. Pertama manajemen harus profesional. Kelihatannya sederhana, tapi kita ingin mereka punya bayangan karena kalau sudah dikenal publik, maka kontrolnya akan semakin tinggi," papar Nyoman.

    Menurut Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Aviliani, keputusan melantai di bursa bukan hal yang mudah dilakukan. Sebab, salah satu syarat perusahaan bisa melakukan IPO yakni harus ada peningkatan profit dalam dua tahun terakhir.

    "Untuk go public tidak mudah, karena akan dipertanyakan neraca, profit, dan prospektusnya. Walau mereka memiliki data, tetapi tidak bisa dilihat sebagai sektor riil," ujar Aviliani, saat mengisi diskusi belum lama ini.

    Selain itu, tambah Aviliani, startup tidak terlalu mencari untung pada awal-awal berdiri. "Malah istilahnya cenderung bakar duit," tambahnya.

    Aviliani melanjutkan, untuk bisa IPO, sebuah startup tidak hanya harus memiliki permodalan yang kuat, tetapi juga harus memiliki ekosistem riil untuk menarik investor. Itu sebabnya, modal ventura masih menjadi opsi permodalan terbaik bagi startup.



    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id