Penundaan IPO Nara Hotel Diduga Ulah Mafia Pasar Modal

    Husen Miftahudin - 08 Februari 2020 05:07 WIB
    Penundaan IPO Nara Hotel Diduga Ulah Mafia Pasar Modal
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id
    Jakarta: Corporate Legal Director PT Nara Hotel Internasional Tbk Yudistira Putra Sakti menduga permintaan penundaan listing saham perseroan akibat ulah oknum mafia pasar modal. Sebab gagalnya upaya menguasai aksi pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) Nara Hotel membuat oknum investor tersebut menyerang balik dengan memunculkan isu negatif. 

    Nara Hotel memilih memberikan porsi pooling ke investor retail lantaran tak ingin harga saham dikontrol bandar. Menurutnya, oknum tersebut telah merusak iklim investasi di pasar keuangan.

    "Pasar modal Indonesia adalah milik masyarakat, bukan segelintir pemodal raksasa yang dapat mengontrol emiten dan memanipulasi pasar," ujar Yudistira dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Jumat, 7 Februari 2020. 

    Yudistira berharap praktik-praktik mafia pasar yang ingin menguasai IPO saham seharusnya dibasmi. Pasar modal merupakan milik masyarakat dan investor publik harus bisa menikmati hasil positif dari investasinya. Hal ini agar iklim investasi di Indonesia tetap terjaga dan senantiasa bertumbuh secara merata.

    "Kami berharap keadilan dan regulator dapat segera membasmi oknum mafia-mafia pasar modal. Mari kita percayakan pada regulator yang berwenang menyelesaikan masalah ini," tegas Yudistira.

    Manajemen perusahaan jasa sektor properti itu sebelumnya meyakini tata cara pemesanan surat penawaran umum pada 3 dan 4 Februari 2020 sudah sesuai syarat dan peraturan yang berlaku yaitu, setiap calon investor mengisi surat Formulir Pemesanan Pembelian Saham (FPPS) dan persyaratan administratif lainnya, serta memenuhi syarat pembelian saham dengan melengkapi kelengkapan adminsitrasi dan menyetorkan sejumlah dana sesuai dengan saham yang dipesan.

    Direktur Utama Nara Hotel Internasional Adrianus Daniel Sulaiman menyebutkan perusahaan telah adil dalam memberikan porsi saham kepada investor. Pasalnya, investor retail kerap tidak bisa membeli saham perusahaan yang IPO dalam jumlah besar karena dikuasai oleh bandar.

    "Biasanya, orang membeli atau memesan saham pada IPO susah untuk mendapatkan saham. Sebab, hanya dikuasai oleh sekelompok orang atau yang biasa disebut bandar," ucapnya.

    Menurut dia, ada kejanggalan dari investor yang melaporkan hal tersebut ke Bursa Efek Indonesia. Sebab, dari total 631 investor, hanya 10 investor yang melakukan protes. Keinginan melantai di bursa agar masyarakat umum memiliki kesempatan yang sama dengan investor skala besar lainnnya.

    "Dari 631 investor hanya 10 orang investor yang merasa janggal dan melakukan protes ke Bursa. Sementara, bagaimana nasib ratusan investor lainnya yang ingin menjadi bagian dari IPO Nara Hotel Internasional?" ungkap Daniel.

    Semula, IPO Nara Hotel dijadwalkan akan berlangsung di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat, 7 Februari 2020. Nara Hotel berencana melepas dua miliar saham atau setara 20 persen saham dari modal ditempatkan dan disetor penuh.

    Adapun harga pelaksanaan IPO Rp101 per saham. Perseroan mengincar dana Rp202 miliar dari aksi ini.

    Sayangnya rencana tersebut kandas, Bursa menunda IPO Nara Hotel. Direktur Utama BEI Inarno Djajadi menjelaskan, penundaan IPO Nara Hotel lantaran banyaknya komplain dari para nasabah.

    "Nara itu penundaan (IPO), bukan pembatalan. Ada yang komplain dari para nasabah yang mungkin kita mesti hati-hati melihatnya," umgkap Inarno. 

    Inarno menyebutkan ada indikasi penjatahan saham terpusat atau pooling yang membuat pihak bursa dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuat keputusan tersebut. "Yang saya tahu adalah nasabah yang pooling," ujarnya.

    OJK melalui Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II Fakhri Hilmi sudah menyampaikan surat penundaan IPO Hotel Nara kepada PT Magenta Kapital Sekuritas Indonesia sebagai penjamin efek pada Kamis, 6 Februari 2020.

    Dalam surat bernomor S-3/PM.2/2020 OJK meminta agar sekuritas tidak melakukan distribusi saham Hotel Nara hingga pemberitahuan lebih lanjut.

    "Menunjuk pernyataan pendaftaran PT Nara Hotel Internasional Tbk (perseroan) melalui Surat Nomor 103/DS/NHI-OJK/19 tanggal 11 Oktober 2019 perihal surat pengantar untuk pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum saham perdana oleh emiten skala menengah PT Nara Hotel Internasional Tbk, serta adanya pengaduan terkait pemesanan dan penjatahan saham perseroan, Saudara agar tidak melakukan distribusi saham tersebut hingga pemberitahuan lebih lanjut," tulis Fakhri Hilmi. 

    Tak lama berselang, pihak BEI pun juga memberi pengumuman bahwa IPO Nara Hotel ditunda. Penundaan pencatatan saham tersebut tertuang dalam surat No: Peng-00001/BEI.PP2/02-2020 tertanggal 6 Februari 2020.

    "Bursa menunda pencatatan efek PT Nara Hotel Internasional Tbk (NARA) hingga pengumuman lebih lanjut," tulis surat yang ditandatangani oleh Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna.




    (WHS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id