Memburu Cuan di Tahun Politik

    Arif Wicaksono - 23 Januari 2019 13:49 WIB
    Memburu <i>Cuan</i> di Tahun Politik
    Ilustrasi. (FOTO: MI/Rommy Pujianto)
    Jakarta: Gairah investasi generasi milenial alias investor muda terbilang tinggi di pasar saham Indonesia.

    Catatan Bursa Efek Indonesia (BEI) menjabarkan usia 18-25 tahun memegang pertumbuhan tertinggi dalam daua tahun terakhir atau naik dua kali lipat dibanding akhir 2016.

    Pada 2018, pasar modal Indonesia merekam pencapaian yang cukup signifikan. Tercatat pada akhir tahun lalu, jumlah investor saham telah mencapai 222 ribu investor, di mana total keseluruhan berkisar 851 ribu investor saham. Di antaranya adalah generasi milenial.

    Namun demikian, para investor muda ini perlu strategi untuk memaksimalkan portofolionya. Berbagai kemudahan untuk membeli beragam instrumen investasi juga menjadi faktor aktivitas transaksi investor.

    CEO Jagartha Advisors FX Iwan menyatakan seorang investor perlu memperhatikan beberapa hal seperti pergerakan nilai tukar rupiah, saham, obligasi, dan reksa dana yang cukup fluktuatif.

    "Saya rasa ini adalah waktu yang tepat bagi para investor muda untuk melatih kepekaan pada isu-isu domestik dan eksternal, karena dari sini kita bisa melihat faktor penggerak naik turunnya nilai investasi," ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 23 Januari 2019.

    Dia mencontohkan apabila dilihat dari kondisi global, peningkatan suku masih bisa berlanjut, sehingga obligasi jangka panjang perlu dihindari. Idealnya, jika memperhatikan kinerja tahun lalu, lanjutnya, tahun ini investor bisa membagi porsi portofolionya di saham, obligasi dan peer to peer lending.

    "Untuk porsi masing-masing yakni 60 persen di reksa dana saham atau saham langsung, 30 persen di obligasi ritel, 10 persen pada instrumen P2P lending," kata Iwan.

    Namun sebaiknya investor juga selalu mengetahui profil risiko dan tujuan investasi karena ini akan berdampak pada pembagian porsi portofolionya. Salah satu instrument yang bisa jadi pilihan adalah instrumen jangka menengah seperti obligasi ritel.

    "SBR 005 kini tengah ditawarkan dengan nilai minimum pesanan yang cukup terjangkau. Investor milenial bisa menjadikan opsi ini sebagai pilihan yang strategis bagi profil risiko menengah ke bawah karena nilai kupon yang mengambang dengan kupon minimal," tambah Iwan.

    Instrumen investasi di reksa dana saham atau saham langsung cocok bagi profil risiko agresif. Menurut Iwan, pasar saham di 2019 punya potensi naik di atas rata-rata dibandingkan dengan instrumen lainnya, seperti deposito atau obligasi jangka pendek dan panjang.

    Selain itu, ada lagi instrumen investasi yang mungkin bisa dieksplorasi oleh investor pemula, yakni masuk ke portofolio peer to peer lending. Hanya saja, Iwan mengingatkan agar investor jeli melihat risiko yang relative lebih besar di bisnis P2P ini.

    "Kuncinya bukan semata pada instrumen apa yang dipilih tetapi proporsi untuk membangun investasi. Saat ini tidak ada patokan khusus dan pasti akan porsi yang ideal, karena semua orang punya tujuan investasi yang berbeda-beda. Perencanaan yang baik bisa dipastikan akan membantu inverstor merealisasikan tujuan-tujuan tersebut," tutup Iwan.

     



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id