comscore

Akhir Februari, Mandiri Investasi Himpun Dana Repatriasi Rp700 Miliar

Dian Ihsan Siregar - 07 Maret 2017 17:02 WIB
Akhir Februari, Mandiri Investasi Himpun Dana Repatriasi Rp700 Miliar
Ilustrasi. (FOTO: MI/Atet Dwi Pramadia)
medcom.id, Jakarta: ‎PT Mandiri Manajemen Investasi telah menghimpun dana repatriasi sebesar Rp700 miliar per akhir Februari 2017. Angka itu belum mencapai target dari posisi di atas Rp1 triliun hingga periode pengampunan pajak (tax amnesty) berakhir di 31 Maret 2017.

‎"Dana repatriasi melalui kami yang masuk sampai akhir Februari 2017 sebesar Rp700 miliar, meningkat dari akhir 2016 sebesar Rp500 miliar. Tersebar dari reksa dana maupun kontrak pengelolaan dana (KPD), serta lainnya," kata Direktur Marketing PT Mandiri Manajemen Investasi Endang Astharanti, ditemui dalam acara 'Market Outlook 2017 Mandiri Investasi'‎, di The Westin Jakarta Hotel, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa 7 Maret 2017.
Endang mengakui, dana repatriasi yang ditargetkan perseroan belum tercapai seperti yang diharapkan. Namun demikian, angka itu sudah paling tinggi bila dibandingkan manajemen investasi (MI) yang lainnya.




"Saat ini sudah ada beberapa di pipeline yang masih dalam proses. Tapi, size-nya tidak bisa disebutkan. ‎Ada satu dalam proses, itu masih dalam dijalankan, targetnya 31 Maret bisa masuk. ‎Antara MI lain yang melalui program repatriasi, kalau secara size, MI yang paling tinggi, di luar dari perbankan," papar Asti sapaan akrabnya.

Dana repatriasi yang masuk, lanjut Asti, bisa masuk lewat agen maupun bank gateway seperti induk usaha perusahaan yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). "Salah satunya Bank Mandiri yang menyalurkan produk kami, di situ ada pilihan dari produk-produk tax amnesty, baik langsung maupun tidak langsung," jelas Asti.

Direktur Utama PT Mandiri Manajemen Investasi Muhammad Hanif menambahkan, masih terbatasnya instrumen investasi yang membuat dana repatriasi terbilang minim yang masuk ke perusahaan. Maka dari itu, dana repatriasi yang telah didapat perusahaan hingga saat ini sudah terbilang baik.

"Masih terbatas memang ada tantangan, sayang saja tidak ada instrumen yang belum cukup. Memang siap minat berinvestasi di infrastruktur, tapi dalam kesiapannya proyek infrastruktur belum siap, mungkin butuh waktu enam bulan. Jadi beberapa yang dilapangannya seperti itu," tutup Hanif.

 

(AHL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id