BTN Pupuk Rasio Cadangan Kerugian Penurunan Nilai

    Ade Hapsari Lestarini - 14 November 2019 18:17 WIB
    BTN Pupuk Rasio Cadangan Kerugian Penurunan Nilai
    Ilustrasi. FOTO: dok BTN.
    Jakarta: PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk terus memupuk rasio Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) untuk mempersiapkan diri menghadapi aturan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71. Melalui strategi tersebut, perseroan mencatatkan perolehan laba senilai Rp801 miliar pada kuartal III-2019.

    Plt. Direktur Utama BTN Oni Febriarto R mengatakan perseroan berkomitmen meningkatkan rasio pencadangan. Komitmen tersebut ditunjukkan dengan mengerek naik nilai CKPN sebesar 21,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp1,79 triliun menjadi Rp2,18 triliun pada September 2019.

    Secara rasio, CKPN perseroan naik ke level 52,67 persen pada September 2019 dari 38,58 persen di bulan yang sama tahun lalu.

    "Dengan peningkatan alokasi ke CKPN tersebut, laba bersih kami berada di posisi Rp801 miliar pada kuartal tiga ini. Hingga akhir tahun, kami membidik rasio CKPN terus naik ke level di atas 70 persen," jelas Oni dalam keterangan resminya, Kamis, 14 November 2019.

    Oni menuturkan perolehan laba bersih tersebut disumbang pendapatan bunga perseroan serta efisiensi yang dilakukan. Pendapatan bunga BTN tercatat melaju di atas kenaikan penyaluran kredit meski di tengah kondisi penurunan suku bunga acuan.

    Pendapatan bunga BTN terekam naik sebesar 17,97 persen yoy atau berada di atas laju kredit di level 16,75 persen yoy. Catatan keuangan perseroan menunjukkan pendapatan bunga per kuartal III-2019 senilai Rp19,32 triliun atau naik dari Rp16,38 triliun pada September 2018.

    BTN juga telah melakukan efisiensi dengan pertumbuhan biaya operasional di luar CKPN hanya sebesar 1,3 persen yoy per September 2019. Angka tersebut turun jauh di bawah kenaikan biaya operasional di luar CKPN pada 2018 sebesar 11,2 persen yoy. Pertumbuhan biaya operasional tersebut juga berada jauh di bawah kenaikan aset yang melesat sebesar 16,1 persen yoy per September 2019.

    Adapun, pendapatan bunga BTN ditopang penyaluran kredit perseroan yang naik sebesar 16,75 persen yoy dari Rp220,07 triliun pada September 2018 menjadi Rp256,93 triliun di bulan yang sama tahun ini.

    Kenaikan kredit tersebut ditopang pertumbuhan positif pada KPR subsidi. Laporan keuangan emiten bersandi saham BBTN tersebut menunjukkan KPR Subsidi BTN melesat di level 25,54 persen yoy dari Rp88,92 triliun menjadi Rp111,64 triliun per kuartal III-2019.

    Menurut Oni, hingga akhir tahun nanti, BBTN akan tetap mengutamakan prinsip kehati-hatian, perbaikan kualitas, dan penyesuaian dengan likuiditas dalam penyaluran kreditnya. Dengan fokus tersebut, lanjutnya, perseroan membidik pertumbuhan kredit yang lebih realistis.

    "Target pertumbuhan kredit kami akan realistis di angka 8-10 persen sampai dengan akhir 2019," jelas dia.

    Di sisi lain, pada kuartal III-2019, BTN mencatatkan pertumbuhan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 18,1 persen yoy. DPK BBTN tercatat naik dari Rp195,05 triliun pada September 2018 menjadi Rp230,35 triliun pada bulan yang sama tahun ini. Dengan capaian penyaluran kredit dan penghimpunan DPK tersebut, BTN mencatatkan kenaikan aset sebesar 16,12 persen yoy dari Rp272,3 triliun pada kuartal III-2018 menjadi Rp316,21 triliun.




    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id